Tampilkan postingan dengan label MUTIARA KALAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MUTIARA KALAM. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 April 2011

SYAIR

Syair Al-Imam Asy-Syafi’i

إن الفقـيه هو الفقـيه بفعـله # ليس الفقـيه بنطـقه و مقاله
وكذا الرئيس هو الرئيس بخلقه # ليس الرئيس بقومه و رجاله
وكذا الغـني هو الغـني بحاله # ليس الغـني بملـكه و بماله

Sesungguhnya orang yang faqih (alim) itu adalah dinilai dengan perbuatannya
Bukanlah orang yang faqih itu dinilai dengan ucapan dan perkataannya
Begitu juga pemimpin itu adalah dinilai dengan kemuliaan akhlaknya
Bukanlah pemimpin itu dinilai dengan banyaknya massa dan pembela-pembelanya
Begitu juga orang yang kaya itu adalah dinilai dengan keadaan (kedermawanan)nya
Bukanlah orang yang kaya itu dinilai dengan banyaknya harta bendanya
[Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 97]


يا ابنتي إن أردت آية حسـن # و جمالا يزين جسـما و عقـلا
فانبذي عادة التـبرج نبــذا # فجـمال النفوس أسمى و أعـلا
يصنع الصانعون وردا ولكن # وردة الروض لا تضارع شكلا

Hai putriku, jikalau kau ingin tanda-tanda keindahan
dan kecantikan yang menghiasi tubuh dan akal,
maka buanglah jauh-jauh adat berdandan,
karena kecantikan jiwa itu jauh lebih indah dan lebih tinggi.
Para tukang (bunga) itu mampu membuat bunga mawar buatan, akan tetapi
bunga mawar yang tumbuh dalam taman itu tak dapat disamai bentuknya.
[Jawaahirul Balaaghah, Sayyid Ahmad Al-Hasyimi]


Syair Al-Imam Ali bin Abi Tholib

ما الفخـر إلا لأهل العلم إنـهم # على الهدى لمن استهدى أدلاء
و قدر كل امرئ ما كان يحسنه # و الجاهلون لأهل العلم أعـداء
ففز بعلم تعـش حـيا به أبـدا # الناس موتى و أهل العلم أحياء

Tiada kebanggaan kecuali bagi orang yang berilmu, sesungguhnya mereka
adalah penunjuk bagi orang-orang yang memerlukan petunjuk.
Harga diri setiap orang terletak pada sesuatu yang bisa membuatnya baik,
sedangkan orang-orang yang bodoh adalah musuh bagi orang yang berilmu.
Oleh karenanya, berjayalah dengan ilmu, maka kamu ‘kan hidup selamanya.
Manusia itu pada dasarnya mati, sedangkan orang yang berilmu itu senantiasa hidup.
[Diambil dari Ihya Ulumiddin, juz 1, hal. 8]

Syair Al-Imam Asy-Syafi’i

تعمدني بنصحك في انفرادي # و جنبني النصيحة في الجماعه
فإن النصح بين الناس نـوع # من التوبيخ لا أرضى استماعه
وإن خالفتني و عصيت قولي # فـلا تجزع إذا لم تعط طاعه

Bila engkau hendak memberikan nasehat kepadaku, berilah pada saat ku sendiri,
dan janganlah engkau memberikan nasehat kepadaku di hadapan orang banyak.
Sesungguhnya nasehat yang dilakukan di hadapan orang banyak itu merupakan satu bentuk
pencorengan, yang saya tidak suka mendengarnya.
Jika engkau tidak sepakat denganku (terhadap masalah ini) dan tidak menuruti perkataanku,
maka jangan putus asa kalau (nasehatmu itu) tidak diikuti.
[Diambil dari Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal.79]


Syair Al-Habib Abdullah bin Alawy Alhaddad

و إن قولك لم هذا و كيف و هل # منك إعتراض على الرحمن عزوجل

قل قدر الله ما شاء الإلـه فعـل # إذا غلبـت كـما قد صح في الخـبر

Jika (ditimpa musibah) engkau berkata, ”Kenapa ini bisa terjadi!”, “Bagaimana ini!”, “Apa ini!”,
maka ini sudah merupakan penentanganmu terhadap Allah Azza wa Jalla.
(Seharusnya) katakanlah, “Ini adalah takdir Allah. Jika Allah berkehendak, maka Dia pasti melakukannya”
(Katakanlah itu) jika engkau ditimpa suatu musibah, sebagaimana yang dituntunkan oleh Al-Qur’an dan Al-Hadits.
[Diambil dari Ad-Durru Al-Mandzum, Al-Habib Abdullah bin Alawy Alhaddad, hal. 81]






Siapa yang tak menempuh jalan leluhurnya

Syair Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi
Siapa tak menempuh jalan leluhurnya, pasti ‘kan bingung dan sesat.
Wahai para cucu Nabi, tempuhlah jalan mereka.
Tempuhlah jalan lurus dan jauhilah segala bid’ah.
Pergilah bersama yang mencintai dan mentaati Allah.
Dalam beramal dan menahan diri, teladanilah mereka tapak demi tapak.
Berkat para salafmu, kau ‘kan mendapat banyak manfaat.
Luas, agung dan mulia budi pekerti mereka.
Dalam thoriqohnya, takkan kau dapati perselisihan atau sengketa.
Dengan penuh semangat, beramallah mereka dengan tulus.
Meningkatlah kedudukan mereka, tinggi dan mulia.
Tak mereka diamkan yang haus dalam kehausannya dan yang lapar dalam kelaparannya.
Dengan pekerti luhur, mereka usahakan jalan ‘tuk mengatasinya.
Dengan amal saleh, mereka muliakan masjid dan muka bumi.
Bergegas menyambut seruan manusia yang mereka cintai dan taati.
Yaitu sebaik-baiknya Nabi dan semulia-mulianya pemberi petunjuk dan dai.
Ketika beliau berdakwah kepada mereka, mereka pun mendengarkannya sepenuh hati.
Dengan semangat mereka berusaha ‘tuk segera meraih kedudukan mulia.
Tanpa angin atau layar, perahu pun berangkat berkat mereka.
Tetapi dengan inayah Allah perahu berlayar dengan taat, tak menentang.
Anugrah Allah ini dikhususkan untuk mereka yang patuh, tak membangkang.
Demikianlah ucapanku ini dan yang semisal ini selalu sedap di telinga.
Dengarkan dan pahamilah syair ini, didalamnya terhimpun segalanya.
Hiruplah keharuman ini, karena ia tersebar di antara ahlinya.
Ya Allah, aku datang ke hadirat-Mu dengan suatu maksud dan tujuan.
Aku mengakui kelemahan, ketidaksempurnaan dan ketidakkuasaanku,
maka sempurnakanlah kekuranganku karena ‘ku memang tak sempurna.
Tiada sandaran bagiku kecuali beliau yang keharuman namanya tersebar memenuhi alam semesta,
sebaik-baiknya Nabi yang cahayanya meredupkan segala cahaya.
[Diambil dari Ulama Hadramaut, Al-Habib Umar Bin Hafidz, cetakan I, penerbit Putera Riyadi Solo]

Huwan Nuuru

Kalam Al-Arif Billah Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi
Dialah cahaya
yang sinarnya adalah petunjuk
bagi mereka yang mencari kebenaran
Dibawah panjinya
para rasul berhimpun, bernaung dan berdiri.

Wahai yang menjulang tinggi jauh dariku
rongga ragaku sesak kerinduanku padamu.
Jawablah jeritan kerinduanku ini
yang kuserukan dari semua penjuru.

Setiap kali kurasa derita
mengingatmu jadi penawar
dan betapa indahnya
kesembuhan karena mengingatmu itu

Bila saja mereka tahu
bagaimana berat derita kerinduan yang kualami
sungguh !
hanya pertemuan dengan kekasihku itulah obatnya.

Wahai sahabatku
yang mendahuluiku menemui kekasihku
sampaikanlah padanya
pesan-pesanku ini (qosidah-qosidahku)
yang kukemas dalam huruf-huruf indah penuh kerinduan.

Kemulyaan, keutamaan, keindahanmu tak terlukiskan,
tapak kakimu begitu mempesona
bagaimana lagi memandang kemulyaan wajahmu.

Bila ku coba menyembunyikan cintaku
cintaku bahkan bergelora menjadi-jadi.
samalah bagiku,
mengungkapkannya atau menyembunyikannya

Yaa Allah
berilah kehormatan ‘tuk memandang junjunganku
niscaya terkikis karat yang melekat
dan hati ini suci kembali

Yaa Allah
kabulkanlah dambaan Ali1
‘tuk bertemu, bersama kekasihnya
manusia termulia
tujuan perjalanannya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam

[Petikan syair pada buku maulud As-Simthu Ad-Durar, karya Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi]

Terbitlah purnama

Kalam Sayyid Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim Al-Barzanji
Terbitlah purnama kepada kita
Dengan terbitnya tenggelam seluruh bulan lainnya
Rupawan seindah wajahmu tak pernah kami menyaksikannya
Wajah ceria penuh sukacita

Engkau mentari, engkaulah punama
Engkau cahaya di atas segala cahaya
Engkau pembangkit semangat dan daya
Engkau lentera hati kita

Wahai kekasihku wahai Muhammad junjunganku
Wahai bintang dari Timur dan Barat
Wahai engkau sang pendukung wahai yang terpuji
Wahai imam dua kiblat

Siapa yang sempat melihat wajahmu betapa untungnya
Wahai engkau yang berbudi mulia pada orangtua
Mata airmu yang sejuk dan suci
adalah tempatku mereguk minum di hari kebangkitan nanti

Kami tak pernah melihat unta-unta
dari mana pun asalnya berjalan gembira
kecuali saat mereka menujumu semata
Awan-awan melindungimu
Dan tuan rumah mulia melimpahkan segala
Hadiah kehormatan bagimu saja

Pepohonan mendatangimu menitikkan airmata
merundukkan diri antara dua tanganmu
Dan kijang-kijang yang melesat itu wahai kekasihku
Mereka pun datang untuk perlindunganmu

Bila semua karavan telah siap sedia
saat keberangkatan telah diumumkan bagi semua
‘Kudekati mereka dengan basah airmata
sembari berkata, “tunggu sejenak, wahai tuan kepala,
dan kirimkan untukku beberapa surat ini saja”
Wahai rasa rindu yang tak tertanggungkan

Di tengah tujuan nampak rumah-rumah hunian
Waktunya malam hari dan saat awal subuh sekali
Di puncak gembira semua makhluk di alamraya ini
Untukmu wahai pria berdahi rupawan berseri
Cinta mereka bagimu sungguh tak ada yang memadai
Penuh tunggu penuh rindu
dalam kehadiran aura jiwamu
Umat manusia yang ada dimana-mana laksana terpana

Engkaulah penutup seluruh nabi
Dan pada Dia Tuhanmu bersyukur engkau tiada henti
Hamba-hambamu ini wahai Tuhan amat mengharapkan
seluruh rahmatmu berlimpah baginya tanpa henti

Pikiran kami tentang dirimu junjunganku Muhammad
senantiasa luhur dan suci
Wahai pembawa berita gembira wahai pemberi peringatan
bagi umat manusia
Bantu aku ya Allah dan lindungi aku
Wahai yang mampu melindungi siksa api neraka
Wahai yang mampu menolong dan tempat kami berlindung
di saat-saat malapetaka harus ditanggung

Sukacitalah sang budak yang telah merasakan arti
bahagianya merdeka
dari segala pedih dan cemas atasmu Muhammad kekasih hati
yang cahayanya begitu terang layaknya purnama
bagimu seluruh kebaikan sempurna

Dibanding dirimu tak ada lagi yang lebih suci
Wahai kakek baginda Husain
Bagimu seluruh rahmat Allah semata
terus menerus melimpah sepanjang masa

Wahai engkau yang derajatnya tinggi diangkat
Maafkan segala dosa yang kami buat
dan maafkan segala kesalahan kami
Engkau murah maaf bagi segala salah
dan segala laku tercela

Engkau yang memaafkan semua dosa
Engkau yang meluruskan jalan kami yang menyimpang
yang mengetahui semua rahasia
Bahkan yang paling dalam dari semua rahasia
Engkau yang menjawab semua doaku

Tuhanku, kasihi semua hambamu ini
melalui jalan kebajikan dan kebaikan
Semoga rahmatMu tercurah bagi Ahmad
rahmat melebihi seluruh baris
yang pernah ditulis

Aku berdoa bagi Muhammad yang selalu dalam bimbinganNya
Pemilik wajah cahaya wajah yang berkilau laksana sang surya
Malam hari kelahirannya bagi Islam adalah saat sukacita
saat semua berbangga

Hari itu anak perempuan Wahab
Memperoleh berkah kebesaran tak wanita lain pun
pernah mendapatkan
Dia pun mendatangi kaumnya
lebih anggun
bahkan dari Maryam wanita yang perawan selamanya

Masa kelahirannya adalah masa kedurhakaan pada puncaknya
dan kelahirannya adalah puncak bencana bagi para pendurhaka

Namun dalam suasana kebahagian penuh sukacita
Yang berjalan tanpa henti-hentinya
Kabar baik itu datang juga
Telah lahir seorang Muhammad
Pribadi yang selalu berada dalam bimbinganNya
dan masa bahagia
Serta yang di atasnya semua bahagia
datanglah pada akhirnya

[Petikan syair pada buku maulud Barzanji, karya Sayyid Ja'far bin Hasan bin Abdul Karim Al-Barzanji]

Huwal habibu…

Kalam Al-Imam Al-Bushiri
Kutinggalkan sunnah Nabi yang sepanjang malam
Beribadah hingga kedua kakinya bengkak dan keram

Nabi yang karena lapar mengikat pusarnya dengan batu
Dan dengan batu mengganjal perutnya yang halus itu

Kendati gunung emas menjulang menawarkan dirinya
la tolak permintaan itu dengan perasaan bangga

Butuh harta namun menolak, maka tambah kezuhudannya
Kendati butuh pada harta tidaklah merusak kesuciannya

Bagaimana mungkin Nabi butuh pada dunia
Padahal tanpa dirinya dunia takkan pernah ada

Muhammadlah pemimpin dunia akherat
Pemimpin jin dan manusia, bangsa Arab dan non Arab

Nabilah pengatur kebaikan pencegah mungkar
Tak satu pun setegas ia dalam berkata ya atau tidak

Dialah kekasih Allah yang syafa’atnya diharap
Dari tiap ketakutan dan bahaya yang datang menyergap

Dia mengajak kepada agama Allah yang lurus
Mengikutinya berarti berpegang pada tali yang tak terputus

Dia mengungguli para Nabi dalam budi dan rupa
Tak sanggup mereka menyamai ilmu dan kemuliaannya

Para Nabi semua meminta dari dirinya
Seciduk lautan kemuliaannya dan setitik hujan ilmunya

Para Rasul sama berdiri di puncak mereka
Mengharap setitik ilmu atau seonggok hikmahnya

Dialah Rasul yang sempurna batin dan lahirnya
Terpilih sebagai kekasih Allah pencipta manusia

Dalam kebaikanya, tak seorang pun menyaingi
Inti keindahannya takkan bisa terbagi-bagi

Jauhkan baginya yang dikatakan Nasrani pada Nabinya
Tetapkan bagi Muhammad pujian apapun kau suka

Nisbatkan kepadanya segala kemuliaan sekehendakmu
Dan pada martabatnya segala keagungan yang kau mau

Karena keutamaannya sungguh tak terbatas
Hingga tak satupun mampu mengungkapkan dengan kata

Jika mukjizatnya menyamai keagungan dirinya
Niscaya hiduplah tulang belulang dengan disebut namanya

Tak pernah ia uji kita dengan yang tak diterima akal
Dari sangat cintanya, hingga tiada kita ragu dan bimbang

Seluruh mahluk sulit memahami hakikat Nabi
Dari dekat atau jauh, tak satu pun yang mengerti

Bagaikan matahari yang tampak kecil dari kejauhan
Padahal mata tak mampu melihatnya bila berdekatan

Bagaimana seseorang dapat ketahui hakikat Sang Nabi
Padahal ia sudah puas bertemu dengannya dalam mimpi

Puncak Pengetahuan tentangnya ialah bahwa ia manusia
Dan ia adalah sebaik baik seluruh ciptaan Allah

Segala mukjizat para Rasul mulia sebelumnya
Hanyalah pancaran dari cahayanya kepada mereka

Dia matahari keutamaan dan para Nabi bintangnya
Bintang hanya pantulkan sinar mentari menerangi gulita

Alangkah mulia paras Nabi yang dihiasi pekerti
Yang memiliki keindahan dan bercirikan wajah berseri

Kemegahannya bak bunga, kemuliaannya bak purnama
Kedermawanannya bak lautan, kegairahannya bak sang waktu

la bagaikan dan memang tiada taranya dalam keagungan
Ketika berada di sekitar pembantunya dan di tengah pasukan

Bagai mutiara yang tersimpan dalam kerangnya
Dari kedua sumber, yaitu ucapan dan senyumannya

Tiada keharuman melebihi tanah yang mengubur jasadnya
Beruntung orang yang menghirup dan mencium tanahnya

[Petikan bait-bait syair kitab Burdah, karya Al-Imam Al-Bushiri]

Apabila didengarkan nama sang kekasih…

Kalam Al-Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz
واللـه ما ذكر الحبيب لدى المحب
إلا و أضحــى والِهًا نشوانـا
Demi Allah, sungguh apabila diperdengarkan nama sang kekasih (Muhammad) di hadapan pencintanya, pasti akan tersentak gembira di mabuk kepayang

أيـــــن المحـبون الذيــن عــليهـم
بذل النفوس مع النفا ئس هانا
Dimanakah para pencinta Nabi (Muhammad) yang rela berkorban dengan harta dan jiwa mereka tanpa peduli apa yang mereka korbankan demi cintanya
لا يسمعون بذكر طــه المصطفى
إلا به انتعـشوا و أذهب رانـا
Apabila mereka mendengar nama Thoha Al-Musthofa (Muhammad), bangkitlah semangat di hati mereka dan hilanglah segala penyakit dan kekotoran hati
فاهتاجت الأرواح تـشـتاق اللــقـا
وتحن تسأ ل ربها الرضوانا
maka bergetarlah jiwa mereka dengan penuh kerinduan ingin berjumpa dengan Sang Nabi, dan dengan penuh kerendahan hati mereka memohon keridhoan dari Allah
حال المحــبـيـن كــذا فاسمع إلى
سير المشفع و ارهف الأذانـا
Begitulah keadaan para pencinta Nabi, maka dengarkanlah kisah-kisah Sang Nabi, dan gunakan pendengaranmu
وانصت إلى أوصاف طـه المجتبى
واحضر لقـلبك يمتـلئ وجدانـا
lalu simaklah dengan baik sifat-sifat Thoha sang pemimpin dan hadirkanlah hatimu dengan penuh kesungguhan
يـــا ربنـا صل وســلم دائمـــــا # على حـبيبك من إليك دعـانـا
Wahai Tuhan kami, limpahkanlah shalawat dan salam selalu atas kekasihMu yang telah menyeru kami kepadaMu
اللـهم صـل و سلم و بـارك عـليه وعـلى آلـه
Ya Allah limpahkanlah shalawat dan salam serta berkahilah atasnya dan atas keluarganya
[Petikan bait-bait syair buku maulud Adh-Dhiya' Al-Lami', karya Al-Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz]

Waspada dalam bergaul

Hendaklah kamu menghindari persahabatan dengan orang yang dapat membuatmu menjauh dari Allah SWT dan dari perbuatan taat kepada-Nya, atau yang membuat kamu lupa berdzikir kepada-Nya, baik yang ia lakukan dengan ungkapan terang-terangan ataupun yang tersembunyi.
Menghindar dari ajakan yang melalui ucapan yang terang-terangan tentunya sudah jelas bagimu. Sedangkan menghindar dari ajakan yang tersembunyi adalah dengan menyadari bahwa untuk tidak sekalipun kamu duduk-duduk bersama seseorang yang menyembunyikan di dalam hatinya niatan untuk meninggalkan berbagai ketaatan kepada Allah, atau yang terus-menerus melakukan berbagai pelanggaran terhadap perintah-perintah-Nya. Tidaklah duduk-duduk dengan mereka kecuali akan mengalir pula dari hatinya ke hatimu suatu perasaan persetujuan, walaupun hanya sedikit, atas sikap mereka.
Maka hendaklah kamu pada jaman seperti sekarang ini, tidak memilih duduk berbincang-bincang bersama seseorang, kecuali jika kamu merasa yakin dapat memperoleh manfaat darinya dalam agamamu. Misalnya dengan duduk bersamanya, kamu bertambah kesadaran akan pentingnya jalan beragama yang kamu tempuh. Atau kamu bertambah semangat dalam upaya meraih apa yang kamu cita-citakan. Atau kamu sendiri yang justru dapat memberinya manfaat dalam agamanya. Namun semua itu tidak boleh dilakukan kecuali setelah kamu benar-benar yakin akan keselamatan diri sendiri. Camkanlah hal ini baik-baik!
[Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Al-Haddad, cetakan I, 2000, penerbit Kharisma, Bandung]

Menjaga diri dalam pergaulan

Jaman ini, berikut orang-orangnya, telah mengalami kerusakan berat, dibanjiri fitnah yang mengerikan, dan telah berpaling dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir. Dalam keadaan yang demikian itu, sulit bagi kita untuk melepaskan diri dari cengkeramannya, kecuali dengan melarikan diri dari mereka dan meninggalkannya jauh-jauh, kecuali yang jelas-jelas masih bersih.
Tidak ada sesuatu pun dari segala macam noda tersebut yang ancamannya tidak mengkhawatirkan agama, atau menyodorkan persoalan yang tak mungkin kita hadapi, tanpa ada seorang pendukung pun yang membantu usaha kita. Bagian-bagian yang masih bersih, yang meski kita ambil dan kerjakan. Karena itu, ambillah itu dan berhati-hatilah menjaga dirimu. Sekali lagi, ambil yang bersih dan tinggalkan yang ternoda.
Saya pesankan kepadamu untuk menjauhi tempat berkumpul orang-orang masa kini, dan jangan pula bergaul dengan mereka, kecuali jika betul-betul perlu. Itupun mesti kamu lakukan dengan hati-hati, agar supaya kamu selamat dalam keikutsertaanmu dengan mereka, dan selamat pula dari keburukan-keburukan mereka. Jadikanlah itu sebagai niatmu dalam menjauhi mereka.
Janganlah kamu datangi majlis-majlis mereka, kecuali yang jelas-jelas bermanfaat bagi agamamu. Kalau kamu tidak sanggup, maka tinggalkan saja majlis orang-orang yang sekiranya dapat membahayakanmu, sebagaimana kamu lari ketika berhadapan dengan binatang buas, atau bahkan lebih dari itu.
[Disarikan dari Majmu' Rosail Al-Habib Abdullah bin Husin Bin Thohir Ba'alawi, dalam edisi terjemahan Menyingkap Diri Manusia]

Jaman fitnah dan penuh ujian

Kebanyakan orang sekarang ini begitu kacau dan tak dapat dikendalikan serta acapkali menarik orang-orang al-mutahaffidhiin (orang-orang yang menjaga agama dan keimanannya) dengan kata-kata dan perbuatan, sehingga mereka terjerumus dalam hal-hal yang tidak baik. Bahkan kadang-kadang ketika mereka bergaul dengan al-mutahaffidhiin itu dan mereka tidak memperoleh sesuatu yang bisa mereka pegangi, mereka lalu membuat kebohongan yang disandarkan kepada orang-orang al-mutahaffidhiin. Celakalah mereka, alangkah beraninya mereka melakukan kebohongan seperti itu.
Jaman sekarang ini adalah jaman fitnah dan penuh ujian, sampai-sampai sebagian atau sebagian besar dari persoalan-persoalan yang ditimbulkannya nyaris menimbulkan prasangka dan tidak berada pada posisinya yang tepat. Karena itu, tidak ada yang bisa menyelamatkan kita kecuali kembali kepada Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui, yang menguasai segala sesuatu, dan kepada-Nya pulalah semuanya akan kembali.
Hadapilah apa yang datang dari jaman yang bobrok ini, dan katakanlah, “Tidak ada persoalan apapun,” sekalipun sebenarnya engkau berada dalam kesulitan. Lapangkanlah dadamu untuk menghadapi orang-orang yang mewakili jamannya, dimana seluruhnya telah menderita, dan hanya Allah-lah yang bisa memberikan pertolongan kepada mereka.
[Disarikan dari Majmu' Rosail Al-Habib Abdullah bin Husin Bin Thohir Ba'alawi, dalam edisi terjemahan Menyingkap Diri Manusia]

Dimanakah mereka?

Kebenaran dan orang-orang yang jujur telah meninggalkan kita,
maka janganlah engkau mengharap akan kejujuran manusia di zaman ini.
Mereka sudah tidak memiliki kejujuran, bahkan mereka tidak mengetahuinya,
apa arti sebenarnya daripada kejujuran itu sendiri?
Karena gelombang kedustaan dan kekotoran telah mencampur aduk mereka.
Mereka telah dikuasai oleh perasaan cinta dunia dan nafsu syahwatnya.
Maka ucapkanlah olehmu, “Wahai Tuhanku, selamatkanlah dari fitnah-fitnah itu”
Dimanakah mereka yang memiliki ketakwaan?
Dimanakah mereka para pemberi petunjuk?
Dimanakah mereka yang memiliki kesempurnaan ilmu dan akal?
Dimanakah mereka yang bisa diikuti jejak langkahnya dalam perbuatan dan perkataannya secara rahasia maupun jelas?
Apakah mereka semua telah mati?
Apakah mereka telah binasa?
Ataukah mereka semua menutup diri mereka,
disebabkan besarnya cobaan pada zaman ini?
Tiada tersisa kebaikan pada zaman ini dan juga pada penghuninya,
Mereka semua telah meninggalkan Al-Qur’an, ilmu dan Sunah Rasul SAW.
Aaah…..sudah berapa kali kuhibur hatiku.
Berapa kali dan berapa kali pula hatiku terasa berduka dan terbelenggu.
Akhirnya, hanya kepada Allah aku menyampaikan keluh kesahku,
juga kepada Nabi Muhammad saw dan para ulama yang berpegang teguh pada agama.
[Diterjemahkan dari Ad-Durru Al-Mandzum, Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad]

Keterikatan akidah

Setiap dari kalian mempunyai akidah. Adapun akidah mereka (orang-orang penghuni jaman ini) adalah hanya di dalam mulut-mulut mereka saja. Jika engkau ingin mengetahui akidah seseorang, lihatlah kepada kelakuannya. Akidah mereka selalu mengikuti hawa nafsu-hawa nafsunya.
Dan barangsiapa siapa yang pada awalnya berakidah mengikuti kaum sholihin, kemudian akidah tersebut hilang, maka tidaklah dapat kembali akidah itu, meskipun ia berdoa, karena doa tersebut tidak akan memberikan manfaat padanya, disebabkan karena tidak adanya wasithah/perantara (dengan para sholihin). Sebagaimana air hujan tidak akan diharapkan turun kecuali dari awan. Sedangkan awannya para sholihin adalah keterikatan hati (kepada mereka).
Adapun apa-apa yang telah berlalu dari salaf (generasi terdahulu), baik yang sebelum jaman Asy-Syeikh Abdullah Alaydrus, maupun sampai jaman beliau, tidaklah kami ini kecuali terikat dengan mereka dan mengikuti apa-apa telah mereka bawa. Dan begitupun dari jaman beliau sampai jaman kita sekarang ini, tidaklah kami mengikuti kecuali apa-apa telah mereka lalui. Dan barangsiapa yang mengambil jalan baru, maka resiko akan ia tanggung sendiri.
[Disarikan dari Tatsbiit Al-Fuaad, juz 1, hal. 185, 218]

Perhatikan sikapmu

Janganlah sekali-kali berkata bohong, walaupun sedikit. Karena sesungguhnya perbuatan seperti itu merupakan aib, baik dalam agama maupun dunia. Jangan pula melakukan pergunjingan terhadap muslim manapun, atau menjelek-jelekkannya di belakangnya, atau memata-matainya, atau mencari-cari kesalahannya, sebab semua itu dapat menimbulkan kemurkaan Allah terhadap dirimu sendiri.
Jangan bertaklid (meniru perilaku dan mengikuti jejak) siapapun kecuali para salaf (pendahulu yang shaleh)-mu. Jangan pula meniru-niru kecuali dari akhlak orang-orang yang mengerti agama dan yang dikenal dalam kesalehannya, dalam semua perbuatan dan hal ihwalmu.
Jangan pula berboros-boros dalam hal makanan, pakaian ataupun apa saja, sebab Allah SWT tidak menyukai kaum yang berbuat boros.
Ketahuilah dan yakinilah bahwa kebaikan, kehormatan dan kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT dan juga di sisi makhluk-Nya adalah tergantung sejauh mana ia melaksanakan perintah-perintah Tuhannya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Kondisi seperti itulah yang perlu kamu perhatikan. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan berkah-Nya atas dirimu.
[Disarikan dari Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Al-Haddad, cetakan I, 2000, penerbit Kharisma, Bandung]

Bersikap rendah hati

Saya berpesan kepada diri saya sendiri dan kepada saudaraku agar senantiasa bersikap rendah hati, terutama terhadap Allah serta hamba-hamba-Nya yang beriman, berlapang dada dan membersihkan hati dari rasa dendam, dengki dan permusuhan terhadap siapa pun di antara kaum muslimin. Dan hendaknya bagi mereka apa saja kebaikan yang ia sukai bagi dirinya sendiri, dan tidak menyukai pula apa saja keburukan yang tidak disukainya bagi dirinya sendiri.
Dan hendaklah selalu memperlakukan mereka dengan akhlak yang baik, dan bersabar terhadap gangguan yang mungkin timbul dari mereka, bahkan memaafkan mereka seandainya mereka mengganggunya ataupun menzaliminya, dan tetaplah mendoakan kebaikan bagi mereka. Dengan sikap dan perilaku seperti itulah, para tokoh besar mencapai kedudukan tinggi mereka dan meraih peringkat-peringkat kesempurnaan.
Dan hendaklah ia benar-benar menjauhi sifat marah, karena yang demikian itu takkan membawa kebaikan sedikitpun. Bahkan sebaliknya, didalamnya terkandung semua segi keburukan. Kecuali apabila kemarahan itu berkaitan dengan hak Allah, ketika larangan-larangan-Nya dilangar, dan perintah-peritah-Nya diabaikan. Hanya dalam keadaan seperti itulah, kemarahan diperlukan dan dipuji, walaupun demikian haruslah tetap dalam batas yang proporsional.
[Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Al-Haddad, cetakan I, 2000, penerbit Kharisma, Bandung]

Bersyukur atas nikmat



Hendaklah kamu selalu mengingat nikmat karunia Allah, yang bersifat lahiriah maupun batiniah, yang berkaitan dengan urusan agama maupun dunia, yang dilimpahkan kepadamu. Perbanyaklah rasa syukurmu itu dalam setiap kesempatan, dengan hatimu maupun melalui ucapanmu.
Ungkapan rasa syukur dengan hati adalah dengan menyadari bahwa setiap nikmat yang diperolehnya adalah dari Allah SWT, dan bahwa kegembiraannya ketika menerima suatu kenikmatan yang disebabkan hal itu merupakan salah satu wasilah untuk pendekatan diri kepada-Nya.
Adapun ungkapan syukur melalui lisan adalah dengan memperbanyak puji-pujian kepada Allah, Yang Maha Pemberi kenikmatan. Sedangkan yang melalui anggota-anggota tubuh lainnya adalah dengan mengarahkan semua kenikmatan itu untuk dijadikan sarana mencari keridhoan Allah SWT, disamping menggunakannya sebagai sarana dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya.
Jangan sekali-kali memberikan perhatian yang berlebihan dalam urusan rizki, sebab yang demikian itu dapat menghitamkan wajah kalbu dan mengalihkannya dari kebenaran. Hal itu merupakan urusan kaum awam yang diperbudak oleh khayalan-khayalan yang menyesatkan. Hal itu juga merupakan urusan kaum awam yang seluruh pikirannya hanya tertuju kepada cara-cara membuat baik dan memperindah jasmani semata-mata. Sungguh amat sering hal seperti itu dijadikan alat oleh setan yang terkutuk untuk mengalihkan pandangan sebagian orang yang berniat menghadapkan wajahnya kepada Allah SWT, agar mereka berbalik arah dan mengalihkan mereka dari tujuan semula.
[Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Al-Haddad, cetakan I, 2000, penerbit Kharisma, Bandung]

Akhlak kepada sesama muslim

Saya berpesan hendaklah kamu selalu meniatkan yang baik-baik saja bagi seluruh kaum muslimin. Cintailah mereka apa yang kamu cintai untuk dirimu sendiri, dalam urusan duniawi maupun ukhrawi, dan tidak menyukai sesuatu yang menimpa mereka sebagaimana kamu tidak menyukai hal itu menimpa dirimu sendiri. Berdialoglah dengan mereka dengan ucapan-ucapan yang baik yang tidak mengandung pelanggaran (atas hak mereka). Ucapkan salam kepada mereka kapan saja kamu bertemu mereka. Bersikaplah selalu rendah hati, lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap mereka. Tunjukkan rasa hormat dan penghargaan kepada siapa-siapa yang berperilaku baik, dan upayakanlah agar memaafkan siapa-siapa yang berperilaku buruk. Berdoalah bagi mereka yang berbuat dosa agar Alloh SWT memberikan kemudahan kepada meraka untuk segera bertaubat. Dan berdoalah bagi mereka yang telah berbuat kebaikan agar Alloh SWT menganugerahkan sifat istiqomah atau konsisten dalam melakukan kebaikan-kebaikan sampai akhir hayat.
Peliharalah hatimu masing-masing dari niatan atau bisikan-bisikan hati yang tercela, dan bersihkanlah dari noda-noda akhlak yang buruk. Berupayalah mencegah keterlibatan setiap anggota tubuhmu dalam kegiatan bermaksiat atau berdosa. Lebih-lebih lagi dalam hal menjaga dan memelihara lidah dari pembicaraan-pembicaraan yang terlarang atau sia-sia, terutama yang bersifat umpatan atau gunjingan terhadap sesama muslim. Begitu besar dosa ghibah (pergunjingan) sehingga dinyatakan bahwa dosanya lebih besar daripada dosa perzinaan.
Dan jika sampai ke pendengaranmu tentang suatu perbuatan buruk dari seseorang di antara mereka (kaum muslimin), sedangkan kamu mampu untuk menasehatinya, maka lakukanlah. Atau jika tidak, jangan sekali-kali menyebutkan tentang keburukannya itu di hadapan orang lain, sehingga dengan demikian kamu telah melakukan dua keburukan sekaligus, yaitu pertama dengan tidak memberikannya nasehat, dan kedua mengucapkan sesuatu yang buruk berkenaan dengan pribadi seorang muslim.
Saya berpesan hendaknya kamu tidak merasa dirimu lebih baik dari orang lain. Apabila perasaan seperti itu terlintas dalam hatimu, sadarilah segera betapa kamu sudah seringkali melakukan kesalahan-kesalahan di masa lalu. Bagaimanapun juga seorang yang berakal sehat pasti mengetahui bahwa dirinya sendiri penuh dengan berbagai aib dan kesalahan. Maka hendaknya ia menyakini hal itu dan tidak meragukannya sedikitpun.
Tidak sepatutnya ia menuduh siapa pun dengan keburukan yang belum tentu ada padanya. Sebab dari apa yang kamu ketahui dari saudara-saudaramu adalah berdasarkan prasangka dan dugaan semata-mata. Sedangkan prasangka adalah ucapan-ucapan yang paling banyak mengandung kebohongan. Disamping itu mungkin saja terdapat alasan-alasan pemaafan berkaitan dengan sebagian keburukan yang diperkirakan seperti itu. Walaupun demikian tidak sepatutnya seseorang membuka pintu pemaafan bagi dirinya sendiri, mengingat hal itu akan membuat hati lebih cenderung kepada penyia-nyiaan waktu dan terjerumus lebih dalam lagi dalam lembah-lembah syahwat hawa nafsu.
[Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Al-Haddad, cetakan I, 2000, penerbit Kharisma, Bandung]

Menuntut ilmu

Saya berpesan hendaknya kamu selalu berusaha dengan sungguh-sungguh menuntut ilmu yang berguna, dengan cara membaca, menelaah buku-buku ataupun berdiskusi untuk mencapai hasil. Jangan sekali-kali meninggalkan upaya itu karena malas atau bosan, ataupun karena perasaan takut sekiranya kamu nanti tidak mampu mengamalkan ilmumu.
Dan hendaklah kamu dalam hal ini selalu memperbaiki niatmu dan bermawas diri. Jangan segera puas hati dengan merasa telah cukup berhasil, sampai kamu benar-benar menguji dirimu sendiri. Selanjutnya berupayalah sungguh-sungguh untuk mengamalkan ilmu yang telah kamu ketahui, serta mengajarkannya kepada siapa yang belum mengetahuinya, baik diminta ataupun tidak.
Apabila setan membisikkan kepada kamu, “Janganlah mengajar sebelum kamu benar-benar menjadi alim yang luas ilmunya”, maka katakanlah kepadanya, “Kini aku apabila ditinjau dari apa yang telah kuketahui adalah alim dan karenanya wajib untuk mengajarkannya kepada orang lain. Sedangkan apabila ditinjau dari apa yang belum kuketahui, maka aku ini seorang pelajar yang wajib belajar dan menuntut ilmu”. Ini tentunya berkenaan dengan ilmu yang wajib dipelajari. Adapun selebihnya, tak apalah jika kamu pelajari juga.
Mengajarkan ilmu merupakan amal ibadah yang besar pahalanya, sepanjang diiringi dengan niat yang baik yang dasarnya karena Alloh semata-mata, bukan karena sesuatu lainnya, tanpa sedikit pun niat untuk meraih harta ataupun kedudukan.
Hendaklah kamu secara konsisten menelaah buku-buku para ulama terdahulu, terutama para tokoh sufi, dan memperhatikan apa yang ada didalamnya. Karena disitu terhimpun banyak petunjuk khusus tentang bagaimana mengenal Alloh, serta berbagai bimbingan tentang cara-cara perbaikan niat, keikhlasan dalam beramal, pendidikan jiwa dan lain sebagainya. Semuanya itu adalah ilmu-ilmu yang sangat bermanfaat, yang tentunya akan menuntun kearah keberuntungan dan keselamatan.
Dan tiada yang enggan memperhatikan dan membaca buku-buku seperti itu kecuali orang-orang yang sudah buta mata hatinya atau gelap jiwanya. Walaupun demikian sekiranya waktumu sangat terbatas sehingga tidak cukup untuk mengkaji buku-buku itu secara keseluruhan, maka khususkanlah pengkajianmu pada buku-buku karangan Al-Imam Al-Ghozali. Karena itulah yang paling banyak manfaatnya, paling lengkap isinya dan paling menarik susunan kata-katanya.
[Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Al-Haddad, cetakan I, 2000, penerbit Kharisma, Bandung]

Tidak berbangga diri

Saya berpesan hendaknya kamu tidak merasa diri lebih baik dari orang lain. Apabila perasaan seperti itu terlintas dalam hatimu, sadarilah segera betapa kamu sudah seringkali melakukan kesalahan-kesalahan di masa lalu. Bagaimanapun juga seorang yang berakal sehat pasti mengetahui bahwa dirinya sendiri penuh dengan berbagai aib dan kesalahan. Maka hendaknya ia menyakini hal itu dan tidak meragukannya sedikitpun.
Tidak sepatutnya ia menuduh siapa pun dengan keburukan yang belum tentu ada padanya. Sebab dari apa yang kamu ketahui dari saudara-saudaramu adalah berdasarkan prasangka dan dugaan semata-mata. Sedangkan prasangka adalah ucapan-ucapan yang paling banyak mengandung kebohongan. Disamping itu mungkin saja terdapat alasan-alasan pemaafan berkaitan dengan sebagian keburukan yang diperkirakan seperti itu. Walaupun demikian tidak sepatutnya seseorang membuka pintu pemaafan bagi dirinya sendiri, mengingat hal itu akan membuat hati lebih cenderung kepada penyia-nyiaan waktu dan terjerumus lebih dalam lagi dalam lembah-lembah syahwat hawa nafsu.
Sungguh betapa perlunya bagi setiap individu pada jaman ini untuk memberikan dalih-dalih pemaafan serta alasan-alasan pembenaran bagi orang lain, mengingat langkanya orang-orang yang benar-benar jujur dan istiqomah, disamping banyaknya berita-berita bohong yang disebarluaskan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab.
Saya juga berpesan agar kamu selalu bersikap tawadhu’ (rendah diri). Sikap tawadhu adalah sikap yang terpuji pada segala kondisi, kecuali dalam satu hal saja, yaitu ber-tawadhu di hadapan para ahli dunia (penghamba dunia) dengan tujuan ingin mendapatkan sesuatu dari dunia mereka atau harta benda mereka. Sedangkan sikap takabur (angkuh dan tinggi hati) adalah sikap yang sangat tercela pada segala kondisi, kecuali dalam hal menghadapi orang-orang zalim yang terus-menerus berbuat kezaliman. Sikap yang demikian itu demi menunjukkan teguran atau protes keras terhadap mereka, asalkan keangkuhan seperti itu hanya tampak secara lahiriah saja, sementara hati kita kosong dari sifat seperti itu.
[Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Al-Haddad, cetakan I, 2000, penerbit Kharisma, Bandung]

Tidak mengutamakan dunia

Telah berkata Ibrahim Al-Khawwas,
“Ilmu itu semuanya tercakup di dalam dua kalimat, yaitu jangan membebani diri untuk memperoleh sesuatu yang memang telah dijaminkan sepenuhnya untuk kamu (tentang rizki) dan jangan mengabaikan apa yang telah dituntut dari kamu (untuk kamu kerjakan)”.
Sahl bin Abdulloh Ash-Shuufi berkata,
“Barangsiapa yang hatinya bersih dari kekeruhan, penih kearifan dengan pengalaman, dan telah sama baginya antara emas dan loyang, niscaya tak lagi membutuhkan sesuatu apapun dari manusia selainnya”.
Berkata Sarry As-Saqathy,
“Barangsiapa mengenal Alloh, maka ia akan merasakan hidup (yang sebenarnya). Barangsiapa mencintai dunia, maka ia akan kehilangan akal. Orang yang berakal, ia akan selalu mawas diri. Sedangkan orang yang bodoh, ia akan berkelana siang dan malam tanpa ada gunanya”.
Berkata Abu Sulaiman Ad-Darony,
“Apabila nafsu manusia telah terbiasa menghindar dari dosa-dosa, maka ruh mereka akan berkelana di alam malakut yang tinggi dan kembali lagi kepada mereka dengan membawa berbagai hikmah yang indah-indah, tanpa harus diajarkan kepadanya oleh ilmuwan manapun”.
Berkata Al-Junaid,
“Kami tidak memperoleh ilmu tasawuf dari kata si fulan atau si fulan, tapi kami memperolehnya dari menahan lapar, meninggalkan dunia dan memutuskan hubungan dengan apa yang hanya berupa kebiasaan dan kegemaran”.
Seseorang dari kalangan sufi ditanya tentang apa itu tasawuf. Ia menjawab, “Itu adalah keluarnya seseorang dari setiap perilaku buruk, dan masuknya ia ke dalam setiap perilaku yang baik”.
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani RA berkata,
“Barangsiapa yang benar-benar mengetahui apa yang ia cari, maka ringanlah baginya segala pengorbanan”.
[Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Al-Haddad, cetakan I, 2000, penerbit Kharisma, Bandung]

Jalan menuju Alloh

Telah berkata Al-Imam Ali bin Abi Tholib KW :
Ada 6 perkara yang barang siapa mengamalkannya maka ia tidak lagi bersusah payah mencari-cari surga dan tidak perlu pula merasa cemas akan siksa api neraka, yaitu :
  • Orang yang mengenal Alloh lalu takut kepada-Nya.
  • Orang yang mengenal setan lalu menentangnya.
  • Orang yang mengenal kebenaran lalu mengikutinya.
  • Orang yang mengetahui kebatilan lalu menjauhkan diri darinya.
  • Orang yang mengenal kesenangan dunia lalu menolaknya.
  • Orang yang mengenal akherat lalu mencarinya.
Seseorang bertanya kepada seorang salaf, “Bagaimanakah jalan menuju Alloh ?”.
“Seandainya kamu mengenal Alloh, tentu kamu mengetahui jalan menuju kepada-Nya”.
“Subhanalloh! Bagaimana mungkin saya beribadat kepada sesuatu yang saya tidak kenal?”.
“Bagaimana pula kamu melakukan maksiat kepada yang telah kamu kenal”.
Seorang sholeh berkata kepada seorang sufi dari kalangan abdal, “Tunjukilah aku suatu amalan yang dengannya aku bisa menemukan hatiku bersama-sama Alloh selamanya?”.
“Jangan melihat kepada manusia, karena melihat mereka itu menimbulkan kegelapan didalam hati”.
“Aku tidak bisa melakukan seperti itu”.
“Kalau begitu jangan mendengarkan omongan mereka, karena mendengar omongan mereka menyebabkan kekerasan didalam hati”.
“Aku tidak mampu melakukan seperti itu”.
“Jangan berurusan dengan mereka, karena berurusan dengan mereka menimbulkan perasaan keterasingan (dari Alloh)”.
“Bagaimana mungkin aku aku mampu bersikap seperti itu, sedangkan aku berada di tengah-tengah mereka”.
“Janganlah merasa senang dan nyaman berada di tengah-tengah mereka”.
“Kalau yang ini mudah-mudahan saja aku mampu melakukannya”.
“Wahai kamu ini, memandang kepada orang-orang yang lalai, mendengar perkataan-perkataan orang-orang yang berbuat pelanggaran, dan berurusan dengan orang-orang yang tak berguna, lalu masih ingin hati kamu bersama Alloh selalu”.
Muhammad bin Ka’ab Al-Qurashi berkata :
Tiga sifat yang barangsiapa menyandangnya maka sungguh telah sempurna imannya, yaitu :
  • Apabila dalam keadaan ridho, maka tidak menyebabkannya terseret ke dalam kebatilan.
  • Apabila dalam keadaan marah, maka tidak menyebabkannya keluar dari kebenaran.
  • Apabila memiliki kemampuan, maka tidak menyebabkannya mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Ibrahim bin Adham RA berkata :
Para wali Alloh selalu berpesan kepadaku apabila aku sedang bersama ahli dunia, hendaklah aku menasehati mereka dengan 4 hal :
  • Barangsiapa banyak bicara, maka ia tidak akan merasakan kelezatan beribadah.
  • Barangsiapa banyak tidurnya, maka ia takkan menemukan keberkahan dalam usianya.
  • Barangsiapa mengharapkan keridhoan kebanyakan manusia, maka jangan berharap akan memperoleh keridhoan Alloh.
  • Barangsiapa banyak bicara tentang apa yang bukan urusannya sendiri atau menggunjingkan orang lain, maka ia takkan keluar dari dunia ini dalam keadaan menyandang keislaman
Seseorang bertanya kepada Hatim Al-Ashom, “Darimana anda makan?”.
“Dari khazanah Alloh”.
“Apakah dilimpahkan atas anda roti dari langit?”, tanya orang itu lagi.
“Seandainya bumi ini bukan milik-Nya, pasti akan dilimpahkannya dari langit”.
“Anda hanya pandai mengucapkan kata-kata!”.
“Bukankah yang turun dari langit (yakni untuk para Nabi) tidak lain adalah kata-kata juga”.
“Ah, aku tidak sanggup berdebat dengan anda”.
“Itu karena kebatilan tidak akan berjalan seiring dengan kebenaran”.
[Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Al-Haddad, cetakan I, 2000, penerbit Kharisma, Bandung]

Adab bergaul

Budayakanlah dalam dirimu sifat selalu menahan diri dan suka memberi maaf atas segala kekhilafan teman-temanmu. Jangan sekali-kali menunjukkan sikap kasar dan kaku, sebab yang demikian itu termasuk sifat-sifat manusia-manusia tiran yang sombong. Jangan pula kamu mengecam kepada seseorang diantara mereka yang melanggar hak pribadimu atau kurang memperhatikannya. Kecuali apabila ia memang seorang yang benar-benar tulus dalam persahabatannya denganmu dan telah teruji kesetiaannya.
Akan tetapi apabila pelanggaran tersebut menyangkut hak Alloh atau hak-hak hamba-Nya, maka dalam hal ini jangan begitu saja memaafkan mereka. Hanya saja tetap diperlukan pertimbangan berkaitan dengan keadaan mereka dalam hal kuat atau lemahnya keyakinan keberagamaan mereka. Maka hendaknya kamu bersikap lebih lunak terhadap para pemula diantara mereka yang masih lemah agamanya, dibandingkan dengan sikapmu berhadapan dengan mereka yang sudah kuat. Akan tetapi bagaimanapun juga sikap lemah lembut merupakan hal yang secara mutlak lebih banyak mengandung kebaikan, maka hendaknya kamu selalu lebih mengutamakannya dalam kamu bersikap.
Bergaullah bersama teman-temanmu dengan cara sebaik-baiknya. Lupakan saja kebanyakan diantara kesalahan-kesalahan mereka, khususnya kesalahan tertentu yang tidak akan terlepas darinya kecuali orang-orang khusus diantara hamba-hamba Alloh yang sholeh. Jadikanlah bincang-bincangmu bersama mereka itu selalu tentang hal-hal yang yang mendatangkan manfaat bagi mereka, yang mampu meluruskan agama mereka dan memenuhi hajat mereka dalam kehidupan dunia dan akherat mereka. Jangan berbincang dengan mereka dalam hal-hal selain itu, kecuali pada saat-saat tertentu dengan niat hanya sekedar menghibur hati, sepanjang memang diperlukan.
Dan seandainya ada orang yang menyakiti hatimu, dengan ucapan ataupun perbuatan, memaki-makimu, menyebut tentangmu dengan sesuatu yang buruk di hadapan khalayak, maka janganlah membalasnya dengan perlakuan yang serupa. hendaknya kamu memaafkannya dan melepaskannya dari dosa kesalahannya itu, tanpa menyisakan sedikitpun rasa dendam atau permusuhan terhadapnya. Seperti itulah akhlak yang layak disandang orang-orang shiddiqqin. Atau jika kamu tidak mampu berbuat demikian, maka serahkan saja urusannya kepada Alloh dan cukuplah Alloh sebagai pembelamu terhadapnya.
[Wasiat-Wasiat Habib Abdullah Al-Haddad, Al-Allamah Al-Habib Abdullah Al-Haddad, cetakan I, 2000, penerbit Kharisma, Bandung]