Tampilkan postingan dengan label MANAQIB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MANAQIB. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 April 2011

Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Kalam As-Sayyid Al-Allamah Muhammad bin Alawi Al-Maliki
Nabi Muhammad S.A.W lahir pada hari Senin di bulan Rabi’al Awwal tahun Gajah. Ada yang mengatakan pada tanggal 2, ada yang mengatakan tanggal 3, dan ada pula yang mengatakan tanggal 12. pendapat yang terakhir adalah yang paling masyhur di kalangan ulama.
Hari Senin adalah yang penuh berkah. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (bin Hanbal), Ibnu Abbas r.a. berkata,
“Rasulullah S.A.W lahir pada hari Senin. Diangkat sebagai nabi pada hari Senin. Berangkat hijrah dari Mekkah ke Madinah pada hari Senin. Dan mengangkat Hajar Aswad pada hari Senin juga.”
Sementara riwayat yang lain mengatakan bahwa beliau lahir dalam keadaan sudah berkhitan dan tali pusarnya sudah putus.
Pada malam kelahirannya terjadi berbagai keajaiban dan keanehan, antara lain:
  • banyak berhala yang jatuh ambruk dari tempatnya berdiri
  • pada saat kelahirannya tampak cahaya terang benderang di cakrawala hingga menyinari istana-istana di negeri Syam
  • istana Kisra (maharaja Persia) mengalami goncangan hebat sehingga tiang-tiang penyanggahnya berjatuhan
  • api sesembahan kaum Majusi di Persia mendadak padam malam itu, padahal selama lebih dari 1000 tahun sebelumnya tidak pernah padam
  • bersamaaan dengan itu surut pula air danau
[Diambil dari Ringkasan Sejarah Nabi Muhammad S.A.W., Sayyid Muhammad bin 'Alawi bin 'Abbas Al-Maliki Al-Hasani, hal. 17]

Sabtu, 16 April 2011

Seri manaqib Imam Bukhari: Masa mengembara dan mengarang

Pada tahun 210 H (menurut riwayat lain 216 H), Muhammad (nama asli Imam Bukhari) diajak ibunya untuk pergi haji. Ia menyambut gembira ajakan ini, karena apa yang selama ini ia idam-idamkan, yaitu berkelana mencari para ulama ahli hadits akan menjadi kenyataan dengan kepergiannya ke Mekkah. Saat musim haji tiba, Muhammad beserta saudaranya, Ahmad, berangkat menuju Mekkah.
Kepergiannya kali ini dapat dikatakan awal perjalanan pengembaraannya mencari hadits. Dan seperti yang telah diduga sebelumnya, ketika Ahmad dan ibunya kembali, Muhammad memilih untuk menetap lebih lama di Mekkah.
Selama tinggal di Mekkah, Muhammad berguru kepada para ulama ahli hadits pada masa itu, seperti Al-Walid, Al-Azraqi, Ismail bin Salim dan lain-lain. Tak lama kemudian ia mengunjungi kota Madinah, untuk menemui para anak cucu sahabat Nabi SAW. Selama bermukim di Madinah setahun, ia sempat menulis 2 buku yang berjudul Qadhaya Ash-Shahabah wa At-Tabi’in dan At-Tariikh Al-Kabiir. Kedua buku itu ditulis saat ia berusia 18 tahun, dan keduanya merupakan karya pertama dari penulis yang cukup produktif ini.
Berawal dari Mekkah dan Medinah, akhirnya Muhammad memulai pengembaraan panjangnya menemui para ulama hadits. Pada masa itu, pencarian hadits hingga ke kota bahkan negara lain telah dilakukan oleh para ulama, tapi Muhammad tercatat sebagai orang pertama yang lawatan dan pencariannya terluas. Syam, Baghdad, Wshit, Basrah, Kufah, Meir, Maru, Asqalan, Rei, Maisabur, Himsha, Khurasan dan masih banyak lagi daerah lain yang sempat dikunjunginya. Pengembaraan panjang yang terkadang hilir mudik ini, memakan waktu selama 16 tahun.
Lebih dari seribu ahli hadits sempat ditemuinya, dan sekaligus menjadi guru dan perawi hadits yang dihimpunnya. Dari jumlah tersebut, dapat diklasifikasikan menjadi 5 kelompok, dan hampir kesemuanya termasuk ulama dan juga ahli hadits.
Selama masa perlawatan, Muhammad sempat menulis beberapa buku, khususnya mengenai permasalahan hadits yang disenanginya sejak kecil. Diantaranya buah tangannya adalah :
  • Al-Adab Al-Mufrad
  • Ra’fu Al-Yadain fii As-Shalah
  • Birru Al-Walidain
  • At-Taariikh Al-Ausat
  • Ad-Dhuafa’
  • Al-Asyribah
  • Al-Hibah
  • dan lain-lain
Dan dari sekian banyak karyanya, Al-Jami As-Shahih lah yang melambungkan nama Imam Bukhari.
[Diambil dari Sejarah Singkat Imam Bukhari dan Karyanya Shohih Bukhori, Habib Muhsin bin Muhammad Aljufri & Habib Abdurrahman Alhaddad, disebarkan pada acara khatam At-Tajriidu As-Shoriih, 5 Nopember 1999, di kediaman Habib Zaki bin Abdurahman Assegaf, Solo]

Seri manaqib Imam Bukhari: Kelahiran dan masa kecil

Imam Bukhari mempunyai nama asli Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah Al-Ju’fi Al-Bukhari. Karena mempunyai putra tertua yang bernama Abdullah, maka sebagaimana kebiasaan, beliau juga dikenal dengan julukan Abu Abdullah. Sedangkan nama beliau yang masyhur, Bukhari, hal ini dinisbatkan kepada desa tempat kelahiran beliau.
Beliau dilahirkan pada hari Jum’at, 13 Syawal 194 H (810 M), di desa Bukhara, Uzbekistan, yang termasuk wilayah Uni Soviet. Walau tak sepopuler anaknya, ayah Bukhari, Ismail, termasuk ulama di bidang hadits. Sewaktu menunaikan ibadah haji, ia menyempatkan menemui Al-Imam Malik bin Anas, Al-Imam Abdullah bin Al-Mubarak dan lain-lain yang terkenal sebagai ulama ahli hadits pada masanya.
Bukhari tak pernah mengenyam pendidikan dari ayahnya, karena dalam usia sekitar 5 tahun, ia telah yatim. Sejak kecil, Bukhari dibimbing dan dididik untuk mencintai ilmu, terutama melalui buku-buku peninggalan ayahnya sendiri. Disamping bersekolah sebagaimana anak muslim lainnya, di rumah ia menjadi kutu buku, berkat bimbingan ibunya.
Dalam usia 10 tahun, Muhammad yang ditopang kecerdasan dan daya ingat yang diatas rata-rata anak yang lain, mulai menghafal dan menganalisa hadits dengan antusias. Beberapa tahun kemudian, ia merasa kurang dengan sekedar berguru di desa dan menggali buku peninggalan ayahnya. Untuk mengurangi rasa kepenasarannya dan keinginan yang kuat untuk menambah ilmu, ia pun mulai mendatangi tokoh-tokoh ahli hadits di sekitar desanya.
Dalam usia 16 tahun, nama Muhammad bin Ismail mulai dikenal khususnya di kalangan ulama hadits sebagai pemuda yang cerdas. Saat itu ia telah banyak menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an (menurut sumber lain menghafal seluruhnya) dan menghafal beberapa buku hadits yang ditulis oleh Al-Imam Abdullah bin Al-Mubarak dan Al-Imam Waki’, yang terkenal sebagai ahli hadits pada masa itu.
[Diambil dari Sejarah Singkat Imam Bukhari dan Karyanya Shohih Bukhori, Habib Muhsin bin Muhammad Aljufri & Habib Abdurrahman Alhaddad, disebarkan pada acara khatam At-Tajriidu As-Shoriih, 5 Nopember 1999, di kediaman Habib Zaki bin Abdurahman Assegaf, Solo]

Al-Imam Ali Zainal Abidin

[Al-Imam Ali Zainal Abidin - Husain - Ali bin Abi Thalib/Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]
Beliau adalah Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (semoga Allah meridhoi mereka semua). Beliau dijuluki dengan julukan Abal Hasan atau Abal Husain. Beliau juga dijuluki dengan As-Sajjad (orang yang ahli sujud).
Beliau adalah seorang yang ahli ibadah dan panutan penghambaan dan ketaatan kepada Allah. Beliau meninggalkan segala sesuatu kecuali Tuhannya dan berpaling dari yang selain-Nya, serta yang selalu menghadap-Nya. Hati dan anggota tubuhnya diliputi ketenangan karena ketinggian makrifahnya kepada Allah, rasa hormatnya dan rasa takutnya kepada-Nya. Itulah sifat-sifat beliau, Al-Imam Ali Zainal Abidin.
Beliau dilahirkan di kota Madinah pada tahun 33 H, atau dalam riwayat lain ada yang mengatakan 38 H. Beliau adalah termasuk generasi tabi’in. Beliau juga seorang imam agung. Beliau banyak meriwayatkan hadits dari ayahnya (Al-Imam Husain), pamannya Al-Imam Hasan, Jabir, Ibnu Abbas, Al-Musawwir bin Makhromah, Abu Hurairah, Shofiyyah, Aisyah, Ummu Kultsum, serta para ummahatul mukminin/isteri-isteri Nabi SAW (semoga Allah meridhoi mereka semua). Beliau, Al-Imam Ali Zainal Abidin, mewarisi sifat-sifat ayahnya (semoga Allah meridhoi keduanya) di didalam ilmu, zuhud dan ibadah, serta mengumpulkan keagungan sifatnya pada dirinya di dalam setiap sesuatu.
Berkata Yahya Al-Anshari, “Dia (Al-Imam Ali) adalah paling mulianya Bani Hasyim yang pernah saya lihat.” Berkata Zuhri, “Saya tidak pernah menjumpai di kota Madinah orang yang lebih mulia dari beliau.” Hammad berkata, “Beliau adalah paling mulianya Bani Hasyim yang saya jumpai terakhir di kota Madinah.” Abubakar bin Abi Syaibah berkata, “Sanad yang paling dapat dipercaya adalah yang berasal dari Az-Zuhri dari Ali dari Al-Husain dari ayahnya dari Ali bin Abi Thalib.”
Kelahiran beliau dan Az-Zuhri terjadi pada hari yang sama. Sebelum kelahirannya, Nabi SAW sudah menyebutkannya. Beliau shalat 1000 rakaat setiap hari dan malamnya. Beliau jika berwudhu, pucat wajahnya. Ketika ditanya kenapa demikian, beliau menjawab, “Tahukah engkau kepada siapa aku akan menghadap?.” Beliau tidak suka seseorang membantunya untuk mengucurkan air ketika berwudhu. Beliau tidak pernah meninggalkan qiyamul lail, baik dalam keadaan di rumah ataupun bepergian. Beliau memuji Abubakar, Umar dan Utsman (semoga Allah meridhoi mereka semua). Ketika berhaji dan terdengar kalimat, “Labbaikallah…,” beliau pingsan.
Suatu saat ketika beliau baru saja keluar dari masjid, seorang laki-laki menemuinya dan mencacinya dengan sedemikian kerasnya. Spontan orang-orang di sekitarnya, baik budak-budak dan tuan-tuannya, bersegera ingin menghakimi orang tersebut, akan tetapi beliau mencegahnya. Beliau hanya berkata, “Tunggulah sebentar orang laki-laki ini.” Sesudah itu beliau menghampirinya dan berkata kepadanya, “Apa yang engkau tidak ketahui dari diriku lebih banyak lagi. Apakah engkau butuh sesuatu sehingga saya dapat membantumu?.” Orang laki-laki itu merasa malu. Beliau lalu memberinya 1000 dirham. Maka berkata laki-laki itu, “Saya bersaksi bahwa engkau adalah benar-benar cucu Rasulullah.”
Beliau berkata, “Kami ini ahlul bait, jika sudah memberi, pantang untuk menginginkan balasannya.” Beliau sempat hidup bersama kakeknya, Al-Imam Ali bin Abi Thalib, selama 2 tahun, bersama pamannya, Al-Imam Hasan, 10 tahun, dan bersama ayahnya, Al-Imam Husain, 11 tahun (semoga Allah meridhoi mereka semua).
Beliau setiap malamnya memangkul sendiri sekarung makanan diatas punggungnya dan menyedekahkan kepada para fakir miskin di kota Madinah. Beliau berkata, “Sesungguhnya sedekah yang sembunyi-sembunyi itu dapat memadamkan murka Tuhan.” Muhammad bin Ishaq berkata, “Sebagian dari orang-orang Madinah, mereka hidup tanpa mengetahui dari mana asalnya penghidupan mereka. Pada saat Ali bin Al-Husain wafat, mereka tak lagi mendapatkan penghidupan itu.”
Beliau jika meminjamkan uang, tak pernah meminta kembali uangnya. Beliau jika meminjamkan pakaian, tak pernah meminta kembali pakaiannya. Beliau jika sudah berjanji, tak mau makan dan minum, sampai beliau dapat memenuhi janjinya. Ketika beliau berhaji atau berperang mengendarai tunggangannya, beliau tak pernah memukul tunggangannya itu. Manaqib dan keutamaan-keutamaan beliau tak dapat dihitung, selalu dikenal dan dikenang, hanya saja kami meringkasnya disini.
Beliau meninggal di kota Madinah pada tanggal 18 Muharrom 94 H, dan disemayamkan di pekuburan Baqi’, dekat makam dari pamannya, Al-Imam Hasan, yang disemayamkan di qubah Al-Abbas. Beliau wafat dengan meninggalkan 11 orang putra dan 4 orang putri. Adapun warisan yang ditinggalkannya kepada mereka adalah ilmu, kezuhudan dan ibadah.
Radhiyallohu anhu wa ardhah…
[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]

Al-Imam Muhammad Al-Baqir

[Al-Imam Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Ali bin Abi Thalib/Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]
Beliau adalah Al-Imam Muhammad bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (semoga Allah meridhoi mereka semua). Digelari Al-Baqir (yang membelah bumi) karena kapasitas keilmuan beliau yang begitu mendalam sehingga diibaratkan dapat membelah bumi dan mengeluarkan isinya yang berupa pengetahuan-pengetahuan. Nama panggilan beliau adalah Abu Ja’far.
Al-Imam Ibnu Al-Madiny meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah (semoga Allah meridhoi mereka berdua) bahwasannya Jabir berkata kepada Imam Muhammad Al-Baqir yang pada waktu itu masih kecil, “Rasulullah SAW mengirimkan salam untukmu.” Beliau bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?.” Jabir menjawab, “Pada suatu hari saya sedang duduk bersama Rasulullah SAW, sedangkan Al-Husain (cucu beliau) lagi bermain-main di pangkuan beliau. Kemudian Rasulullah SAW berkata, ‘Pada suatu saat nanti, dia (yaitu Al-Husain) akan mempunyai seorang putra yang bernama Ali (Zainal Abidin). Jika hari kiamat datang, akan terdengar seruan, ‘Berdirilah wahai pemuka para ahli ibadah.’ Maka kemudian putranya (yaitu Ali-Zainal Abidin) itu akan bangun. Kemudian dia (yaitu Ali Zainal Abidin) akan mempunyai seorang putra yang bernama Muhammad. Jika engkau sempat menjumpainya, wahai Jabir, maka sampaikan salam dariku.’ “
Beliau, Muhammad Al-Baqir, adalah keturunan Rasul SAW dari jalur ayah dan ibu. Beliau adalah seorang yang berilmu luas. Namanya menyebar seantero negeri. Ibu beliau adalah Ummu Abdullah, yaitu Fatimah bintu Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib (semoga Allah meridhoi mereka semua). Beliau dilahirkan di kota Madinah pada hari Jum’at, 12 Safar 57 H, atau 3 tahun sebelum gugurnya ayahnya, Al-Imam Al-Husain.
Dari sebagian kalam mutiara beliau adalah,
“Tidaklah hati seseorang dimasuki unsur sifat sombong, kecuali akalnya akan berkurang sebanyak unsur kesombongan yang masuk atau bahkan lebih.”
“Sesungguhnya petir itu dapat menyambar seorang mukmin atau bukan, akan tetapi tak akan menyambar seorang yang berdzikir.”
“Tidak ada ibadah yang lebih utama daripada menjaga perut dan kemaluan.”
“Seburuk-buruknya seorang teman itu adalah seseorang yang hanya menemanimu ketika kamu kaya dan meninggalkanmu ketika kamu miskin.”
“Kenalkanlah rasa kasih-sayang di dalam hati saudaramu dengan cara engkau memperkenalkannya dulu di dalam hatimu.”
Beliau jika tertawa, beliau berkata, “Ya Allah, janganlah Engkau timpakan murka-Mu kepadaku.”
Beliau adalah seorang yang mencintai dua orang yang agung, yaitu Abubakar dan Umar (semoga Allah meridhoi mereka berdua).
Diantara kalam mutiara beliau yang lain, saat beliau berkata kepada putranya, “Wahai putraku, hindarilah sifat malas dan bosan, karena keduanya adalah kunci setiap keburukan. Sesungguhnya engkau jika malas, maka engkau akan banyak tidak melaksanakan kewajiban. Jika engkau bosan, maka engkau tak akan tahan dalam menunaikan kewajiban.”
Di antara kalam mutiara beliau yang lain, “Jika engkau menginginkan suatu kenikmatan itu terus padamu, maka perbanyaklah mensyukurinya. Jika engkau merasa rejeki itu datangnya lambat, maka perbanyaklah istighfar. Jika engkau ditimpa kesedihan, maka perbanyaklah ucapan ‘Laa haula wa laa quwwata illaa billah’. Jika engkau takut pada suatu kaum, ucapkanlah, ‘Hasbunallah wa ni’mal wakiil’. Jika engkau kagum terhadap sesuatu, ucapkanlah, ‘Maa syaa’allah, laa quwwata illaa billah’. Jika engkau dikhianati, ucapkanlah, ‘Wa ufawwidhu amrii ilaallah, innaallaha bashiirun bil ‘ibaad’. Jika engkau ditimpa kesumpekan, ucapkanlah, ‘Laa ilaaha illaa Anta, Subhaanaka innii kuntu minadz dzolimiin.’ “
Beliau wafat di kota Madinah pada tahun 117 H (dalam riwayat lain 114 H atau 118 H) dan disemayamkan di pekuburan Baqi’, tepatnya di qubah Al-Abbas disamping ayahnya. Beliau berwasiat untuk dikafani dengan qamisnya yang biasa dipakainya shalat. Beliau meninggalkan beberapa orang anak, yaitu Ja’far, Abdullah, Ibrahim, Ali, Zainab dan Ummu Kultsum. Putra beliau yang bernama Ja’far dan Abdullah dilahirkan dari seorang ibu yang bernama Farwah bintu Qasim bin Muhammad bin Abubakar Ash-Shiddiq.
Radhiyallohu anhu wa ardhah…
[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]

Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq

[Al-Imam Ja'far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Ali bin Abi Thalib/Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]
Beliau adalah Al-Imam Ja’far bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (semoga Allah meridhoi mereka semua). Beliau terkenal dengan julukan Ash-Shodiq (orang yang jujur). Beliau biasa dipanggil dengan panggilan Abu Abdullah dan juga dengan panggilan Abu Ismail. Ibu beliau adalah Farwah bintu Qasim bin Muhammad bin Abubakar Ash-Shiddiq. Sedangkan ibu dari Farwah adalah Asma bintu Abdurrahman bin Abubakar Ash-Shiddiq. Oleh karena itu, beliau (Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq) pernah berkata, “Abubakar (Ash-Shiddiq) telah melahirkanku dua kali.”
Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq dilahirkan di kota Madinah pada hari Senin, malam ke 13 dari Rabi’ul Awal, tahun 80 H (ada yang menyebutkan tahun 83 H). Banyak para imam besar (semoga Allah meridhoi mereka) yang mengambil ilmu dari beliau, diantaranya Yahya bin Sa’id, Ibnu Juraid, Imam Malik, Sufyan Ats-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, Abu Hanifah, Su’bah dan Ayyub. Banyak ilmu dan pengetahuan yang diturunkan dari beliau, sehingga nama beliau tersohor luas seantero negeri. Umar bin Miqdam berkata, “Jika aku melihat kepada Ja’far bin Muhammad, aku yakin bahwa beliau adalah keturunan nabi.”
Sebagian dari mutiara kalam beliau (Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq) adalah :
“Tiada bekal yang lebih utama daripada takwa. Tiada sesuatu yang lebih baik daripada diam. Tiada musuh yang lebih berbahaya daripada kebodohan. Tiada penyakit yang lebih parah daripada berbohong.”
“Jika engkau mendengar suatu kalimat dari seorang muslim, maka bawalah kalimat itu pada sebaik-baiknya tempat yang engkau temui. Jika engkau tak mampu untuk mendapatkan wadah tempat kalimat tersebut, maka celalah dirimu sendiri.”
“Jika engkau berbuat dosa, maka memohon ampunlah, karena sesungguhnya dosa-dosa itu telah dibebankan di leher-leher manusia sebelum ia diciptakan. Dan sesungguhnya kebinasaan yang dahsyat itu adalah terletak pada melakukan dosa secara terus-menerus.”
“Barangsiapa yang rizkinya lambat, maka perbanyaklah istighfar. Barangsiapa yang dibuat kagum oleh sesuatu dan menginginkannya demikian terus, maka perbanyaklah ucapan maa syaa-allah laa quwwata illa billah.”
“Allah telah memerintahkan kepada dunia, ‘Berkhidmatlah kepada orang yang berkhidmat kepadaku, dan buatlah payah orang yang berkhidmat kepadamu.’ “
“Fugaha itu orang yang memegang amanah para rasul, selama tidak masuk ke dalam pintu-pintu penguasa.”
“Jika engkau menjumpai sesuatu yang tidak engkau sukai dari perbuatan saudaramu, maka carilah satu, atau bahkan sampai tujuh puluh alasan, untuk membenarkan perbuatan saudaramu itu. Jika engkau masih belum mendapatkannya, maka katakanlah, ‘Semoga ia mempunyai alasan tertentu (kenapa berbuat demikian) yang aku tidak mengetahuinya.’ “
“Empat hal yang tidak seharusnya bagi seorang yang mulia untuk memandang rendah : bangunnya dia dari tempat duduknya untuk menemui ayahnya, berkhidmatnya dia kepada tamunya, bangunnya dia dari atas binatang tunggangannya, dan berkhidmatnya dia kepada seorang yang menuntut ilmu kepadanya.”
“Tidaklah kebaikan itu sempurna kecuali dengan tiga hal : menganggapnya rendah (tidak berarti apa-apa), menutupinya dan mempercepatnya. Sesungguhnya jika engkau merendahkannya, ia akan menjadi agung. Jika engkau menutupinya, engkau telah menyempurnakannya. Jika engkau mempercepatnya, engkau akan dibahagiakannya.”
Dari sebagian wasiat-wasiat beliau kepada putranya, Musa :
“Wahai putraku, barangsiapa yang menerima dengan ikhlas apa-apa yang telah dibagikan oleh Allah daripada rizki, maka ia akan merasa berkecukupan. Barangsiapa yang membentangkan matanya untuk melihat apa-apa yang ada di tangannya selainnya, maka ia akan mati miskin. Barangsiapa yang tidak rela dengan apa-apa yang telah dibagikan oleh Allah daripada rizki, maka berarti ia telah menuduh Allah di dalam qadha’-Nya.”
“Barangsiapa yang memandang rendah kesalahannya sendiri, maka ia akan membesar-besarkan kesalahan orang lain. Barangsiapa yang memandang kecil kesalahan orang lain, maka ia akan memandang besar kesalahannya sendiri.”
“Wahai anakku, barangsiapa yang membuka kesalahan orang lain, maka akan dibukakanlah kesalahan-kesalahan keturunannya. Barangsiapa yang menghunuskan pedang kezaliman, maka ia akan terbunuh dengannya. Barangsiapa yang menggali sumur agar saudaranya masuk ke dalamnya, maka ia sendirilah yang nanti akan jatuh ke dalamnya.”
“Barangsiapa yang masuk ke dalam tempat-tempat orang-orang bodoh, maka ia akan dipandang rendah. Barangsiapa yang bergaul dengan ulama, ia akan dipandang mulia. Barangsiapa yang masuk ke dalam tempat-tempat kejelekan, maka ia akan dituduh melakukan kejelekan itu.”
“Wahai putraku, janganlah engkau masuk di dalam sesuatu yang tidak membawa manfaat apa-apa kepadamu, supaya engkau tidak menjadi hina.”
“Wahai putraku, katakanlah yang benar, walaupun berdampak baik kepadamu ataupun berdampak buruk.”
“Wahai putraku, jadikan dirimu memerintahkan kebaikan, melarang kemungkaran, menyambung tali silaturrahmi kepada seorang yang memutuskan hubungan denganmu, menyapa kepada seorang yang bersikap diam kepadamu, dan memberi kepada seorang yang meminta darimu. Jauhilah daripada perbuatan mengadu domba, karena hal itu akan menanamkan kedengkian di hati manusia. Jauhilah daripada perbuatan membuka aib-aib manusia.”
“Wahai putraku, jika engkau berkunjung, maka kunjungilah orang-orang yang baik, dan janganlah mengunjungi orang-orang pendusta.”
Beliau (Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq) meninggal di kota Madinah pada malam Senin, pertengahan bulan Rajab, tahun 148 H dan disemayamkan di pekuburan Baqi’ di dalam qubah Al-Abbas, dekat dengan makam ayahnya, kakeknya dan paman kakeknya Hasan bin Ali. Beliau meninggalkan lima orang putra, yaitu Muhammad, Ismail, Abdullah, Musa dan Ali Al-’Uraidhi (kakek daripada keluarga Ba’alawy).
Radhiyallohu anhu wa ardhah…
[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]

Al-Imam Ali Al-’Uraidhi

[Al-Imam Ali Al-'Uraidhi - Ja'far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Ali bin Abi Thalib/Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]
Beliau adalah Al-Imam Ali bin Ja’far Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (semoga Allah meridhoi mereka semua). Beliau terkenal dengan julukan Al-’Uraidhi, karena beliau tinggal di suatu daerah yang bernama ‘Uraidh (sekitar 4 mil dari kota Madinah). Beliau juga dipanggil dengan Abu Hasan.
Beliau dilahirkan di kota Madinah dan dibesarkan disana. Kemudian beliau memilih untuk tinggal di daerah ‘Uraidh. Beliau adalah seorang tekun dalam beribadah, dermawan dan seorang ulama besar. Beliau, diantara saudara-saudaranya, adalah anak yang paling bungsu, yang paling panjang umurnya dan paling menonjol keutamaan. Ayah beliau (yaitu Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq) meninggal ketika beliau masih kecil.
Beliau mengambil ilmu dari ayah dan teman ayahnya. Beliau juga mengambil ilmu dari saudaranya, yaitu Musa Al-Kadzim. Beliau juga mengambil ilmu dari Hasan bin Zeid bin Ali Zainal Abidin. Banyak orang yang meriwayatkan hadits melalui jalur beliau, diantaranya 2 putranya (yaitu Ahmad dan Muhammad), cucunya (yaitu Abdullah bin Hasan bin Ali Al-’Uraidhi), putra keponakannya (yaitu Ismail bin Muhammad bin Ishaq bin Ja’far Ash-Shodiq1), dan juga Al-Imam Al-Buzzi.
Berkata Al-Imam Adz-Dzahabi di dalam kitabnya Al-Miizaan, “Ali bin Ja’far Ash-Shodiq meriwayatkan hadits dari ayahnya, juga dari saudaranya (yaitu Musa Al-Kadzim), dan juga dari Ats-Tsauri. Adapun yang meriwayatkan hadits dari beliau diantaranya Al-Jahdhami, Al-Buzzi, Al-Ausi, dan ada beberapa lagi. At-Turmudzi juga meriwayatkan hadits dari beliau di dalam kitabnya.”
Adz-Dzahabi juga berkata di dalam kitabnya Al-Kaasyif, “Ali bin Ja’far bin Muhammad meriwayatkan hadits dari ayahnya, dan juga dari saudaranya (yaitu Musa Al-Kadzim). Adapun yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah dua putranya (yaitu Muhammad dan Ahmad) dan juga ada beberapa orang. Beliau meninggal pada tahun 112 H…”
Adz-Dzahabi juga meriwayatkan suatu hadits dengan mengambil sanad dari beliau, dari ayahnya terus sampai kepada Al-Imam Ali bin Abi Thalib, “Sesungguhnya Nabi SAW memegang tangan Hasan dan Husain, sambil berkata, ‘Barangsiapa yang mencintaiku dan mencintai kedua orang ini dan ayah dari keduanya, maka ia akan bersamaku di dalam kedudukanku (surga) ada hari kiamat.’”
Asy-Syeikh Ibnu Hajar juga berkata di dalam kitabnya At-Taqrib, “Ali bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain adalah salah seorang tokoh besar pada abad ke-10 H…”
Al-Imam Al-Yaafi’i memujinya di dalam kitab Tarikh-nya. Demikian juga Al-Imam Al-Qadhi menyebutkannya di dalam kitabnya Asy-Syifa’, dan juga mensanadkan hadits dari beliau, serta meriwayatkan hadits yang panjang tentang sifat-sifat Nabi SAW. Al-Imam Ahmad di dalam Musnad-nya juga meriwayatkan hadits dari jalur beliau. Demikian juga beberapa orang menyebutkan nama beliau, diantaranya As-Sayyid Ibnu ‘Unbah, Al-’Amri, dan As-Sayyid As-Samhudi.
Beliau, Al-Imam Ali Al-’Uraidhi, lebih mengutamakan menghindari ketenaran dan takut dari hal-hal yang dapat menyebabkan dikenal. Beliau dikaruniai umur panjang, sampai dapat menjumpai cucu dari cucunya.
Beliau meninggal pada tahun 112H di kota ‘Uraidh dan disemayamkan di kota tersebut. Makam beliau sempat tak diketahui, lalu As-Sayyid Zain bin Abdullah Bahasan menampakkannya, sehingga terkenal hingga sekarang. Beliau meninggalkan beberapa putra, yang hidup diantaranya 4 orang, yaitu Ahmad Asy-Sya’rani, Hasan, Ja’far Al-Asghar dan Muhammad (datuk Bani Alawy).
Radhiyallohu anhu wa ardhah…
[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]

1. Dalam sumber lain dikatakan bahwa Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq mempunyai 8 orang putra dan 2 orang putri (Nafaais Al-’Uquud fii Syajarah Aal Ba’abud, Ustadz Muhammad bin Husin bin Ali Ba’abud, hal. 10, manuskrip). Kemungkinan Ishaq disitu adalah salah seorang dari 8 orang putra beliau yang belum disebutkan dalam postingan sebelumnya mengenai manaqib Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq.

Al-Imam Muhammad An-Naqib & putranya Al-Imam Isa Ar-Rumi

[Al-Imam Muhammad An-Naqib - Ali Al-'Uraidhi - Ja'far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Ali bin Abi Thalib/Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]
Beliau, Al-Imam Muhammad bin Ali Al-’Uraidhi, dilahirkan di kota Madinah dan dibesarkan disana. Dari semenjak kecil beliau dididik langsung oleh ayahnya sampai ayahnya pindah ke kota ‘Uraidh. Beliau sendiri akhirnya lebih memilih untuk tinggal di kota Basrah.
Beliau adalah seorang yang zuhud terhadap dunia dan menjauhi kepemimpinan. Beliau seorang yang sangat wara’ dan dermawan. Beberapa ulama yang pernah menyebutkan nama beliau di antaranya Ibnu ‘Unbah, Al-’Amri, dan juga para ahli syair banyak memujinya.
Adapun putra beliau, yaitu Isa bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-’Uraidhi, adalah seorang imam yang sempurna, terkumpul pada dirinya berbagai sifat mulia, dan permata bagi Al-Husainiyyin.
Beliau tinggal di Irak. Beliau dijuluki dengan Ar-Rumi, dikarenakan kulitnya yang berwarna kemerahan. Beliau juga dijuluki Al-Azraq, dikarenakan mata beliau yang berwarna biru.
Beliau adalah seorang yang sangat gemar menuntut ilmu, sehingga beliau dapat menguasai berbagai macam keutamaan dan ilmu. Beliau juga adalah seorang yang dermawan, tempat meminta fatwa dan tinggi kedudukannya.
Beliau beberapa kali menikah sehingga dikaruniai banyak anak. Beliau meninggal di kota Basrah. Beliau meninggalkan 30 orang putra dan 5 orang putri.
Radhiyallohu anhu wa ardhah…
[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]

Al-Imam Ahmad Al-Muhajir

[Al-Imam Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi - Muhammad An-Naqib - Ali Al-'Uraidhi - Ja'far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Ali bin Abi Thalib/Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]
Beliau adalah Al-Imam Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-’Uraidhi bin Ja’far Ash-Shodiq, dan terus bersambung nasabnya hingga Rasulullah SAW. Beliau adalah seorang yang tinggi di dalam keutamaan, kebaikan, kemuliaan, akhlak dan budi pekertinya. Beliau juga seorang yang sangat dermawan dan pemurah.
Beliau berasal dari negara Irak, tepatnya di kota Basrah. Ketika beliau mencapai kesempurnaan di dalam ketaatan dan ibadah kepada Allah, bersinarlah mata batinnya dan memancarlah cahaya kewaliannya, sehingga tersingkaplah padanya hakekat kehidupan dunia dan akherat, mana hal-hal yang bersifat baik dan buruk.
Beliau di Irak adalah seorang yang mempunyai kedudukan yang tinggi dan kehidupan yang makmur. Akan tetapi ketika beliau mulai melihat tanda-tanda menyebarnya racun hawa nafsu disana, beliau lebih mementingkan keselamatan agamanya dan kelezatan untuk tetap beribadah menghadap Allah SWT. Beliau mulai menjauhi itu semua dan membulatkan tekadnya untuk berhijrah, dengan niat mengikuti perintah Allah, “Bersegeralah kalian lari kepada Allah…”
Adapun sebab-sebab kenapa beliau memutuskan untuk berhijrah dan menyelamatkan agamanya dan keluarganya, dikarenakan tersebarnya para ahlul bid’ah dan munculnya gangguan kepada para Alawiyyin, serta begitu sengitnya intimidasi yang datang kepada mereka. Pada saat itu muncul sekumpulan manusia-manusia bengis yang suka membunuh dan menganiaya. Mereka menguasai kota Basrah dan daerah-daerah sekitarnya. Mereka membunuh dengan sadis para kaum muslimin. Mereka juga mencela kaum perempuan muslimin dan menghargainya dengan harga 2 dirham. Mereka pernah membunuh sekitar 300.000 jiwa dalam waktu satu hari. Ash-Shuly menceritakan tentang hal ini bahwa jumlah total kaum muslimin yang terbunuh pada saat itu adalah sebanyak 1.500.000 jiwa.
Pemimpin besar mereka adalah seorang yang pandir dengan mengaku bahwa dirinya adalah Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Isa bin Zainal Abidin, padahal nasab itu tidak ada. Ia suka mencaci Ustman, Ali, Thalhah, Zubair, Aisyah dan Muawiyah. Ini termasuk salah satu golongan dalam Khawarij.
Karena sebab-sebab itu, Al-Imam Ahmad memutuskan untuk berhijrah. Kemudian pada tahun 317 H, berhijrahlah beliau bersama keluarga dan kerabatnya dari Basrah menuju ke Madinah. Termasuk di dalam rombongan tersebut adalah putra beliau yang bernama Ubaidillah dan anak-anaknya, yaitu Alwi (kakek keluarga Ba’alawy), Bashri (kakek keluarga Bashri), dan Jadid (kakek keluarga Jadid). Mereka semua adalah orang-orang sunni, ulama yang mengamalkan ilmunya, orang-orang sufi dan sholeh. Termasuk juga yang ikut dalam rombongan beliau adalah para budak dan pembantu beliau, serta termasuk didalamnya adalah kakek dari keluarga Al-Ahdal. Dan juga ikut diantaranya adalah kakek keluarga Bani Qadim (Bani Ahdal dan Qadim adalah termasuk keturunan dari paman-paman beliau).
Pada tahun ke-2 hijrahnya beliau, beliau menunaikan ibadah haji beserta orang-orang yang ikut hijrah bersamanya. Kemudian setelah itu, beliau melanjutkan perjalanan hijrahnya menuju ke Hadramaut. Masuklah beliau ke daerah Hajrain dan menetap disana untuk beberapa lama. Setelah itu beliau melanjutkan ke desa Jusyair. Tak lama disana, beliau lalu melanjutkan kembali perjalanannya dan akhirnya sampailah di daerah Husaisah (nama desa yang berlembah dekat Tarim). Akhirnya beliau memutuskan untuk menetap disana.
Semenjak beliau menetap disana, mulai terkenallah daerah tersebut. Disana beliau mulai menyebarkan-luaskan As-Sunnah. Banyak orang disana yang insyaf dan kembali kepada As-Sunnah berkat beliau. Beliau berhasil menyelamatkan keturunannya dari fitnah jaman.
Masuknya beliau ke Hadramaut dan menetap disana banyak mendatangkan jasa besar. Sehingga berkata seorang ulama besar, Al-Imam Fadhl bin Abdullah bin Fadhl, “Keluar dari mulutku ungkapan segala puji kepada Allah. Barangsiapa yang tidak menaruh rasa husnudz dzon kepada keluarga Ba’alawy, maka tidak ada kebaikan padanya.” Hadramaut menjadi mulia berkat keberadaan beliau dan keturunannya disana. Sulthanah binti Ali Az-Zabiidy (semoga Allah merahmatinya) telah bermimpi bertemu Rasulullah SAW, dimana di mimpi tersebut Rasulullah SAW masuk ke dalam kediaman salah seorang Saadah Ba’alawy, sambil berkata, “Ini rumah orang-orang tercinta. Ini rumah orang-orang tercinta.”
Radhiyallohu anhu wa ardhah…
[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]

Jumat, 15 April 2011

Al-Habib Alwi bin Muhammad Alhaddad

Al-Habib Alwi bin Muhammad bin Thohir Alhaddad dilahirkan di kota Geidun, Hadramaut, pada tahun 1299 H. Sanad keturunan beliau termasuk suatu silsilah dzahabiyyah, sambung-menyambung dari ayah yang wali ke kakek wali, demikian seterusnya sampai bertemu dengan Rasulullah SAW. Sebagaimana kebanyakan para saadah Bani Alawi, beliau dibesarkan dan dididik oleh ayahnya sendiri, Al-Habib Muhammad bin Thohir bin Umar Alhaddad. Kakek beliau, Al-Habib Thohir bin Umar Alhaddad, adalah seorang ulama besar di kota Geidun, Hadramaut. Sedangkan ayah beliau adalah seorang wali min auliyaillah dan ulama besar yang hijrah dari kota Geidun, Hadramaut, ke Indonesia dan menetap di kota Tegal. Beliau, Al-Habib Alwi, banyak membaca buku dibawah pengawasan dan bimbingan ayah dan kakek beliau, sehingga diberi ijazah oleh ayah dan kakeknya sebagai ahli hadist dan ahli tafsir.
Setelah digembleng oleh ayahnya, beliau lalu berguru kepada :
  • As-Syaikh Abdullah bin Abubakar Al-Murahim Al-Khotib (di kota Tarim)
  • As-Syaikh Abud Botong Al-Amudi (di kota Geidun)
Setelah itu beliau memulai pengembaraannya di sekitar kota-kota di Hadramaut untuk menuntut ilmu dan menghiasi kemuliaan nasabnya dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Beliau keliling dari satu kota ke kota yang lain untuk mengambil ilmu dari ulama-ulama besar yang beliau jumpai. Diantara para guru yang beliau berguru kepada mereka adalah :
  • Al-Habib Husain bin Muhammad Albar (di Gerain)
  • Al-Habib Umar bin Hadun Al-Atthas (di Masyhad)
  • Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas (di Huraidhah)
  • Al-Habib Muhammad bin Abdullah Al-Atthas (di Maula Amed)
  • Al-Habib Umar Maula Amed (di Maula Amed)
  • Al-Habib Abdillah bin Umar bin Sumaith (di Syibam)
  • Al-Habib Abdullah bin Hasan bin Shaleh Al-Bahar (di Thi Usbuh)
  • Al-Habib Abdullah bin Muhammad Al-Habsyi (di Hauthoh Ahmad bin Zein)
  • Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi (di Seiwun)
  • Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur (Mufti Hadramaut)
  • Al-Habib Idrus bin Alwi Alaydrus
  • Al-Habib Abdulqodir bin Ahmad Alhaddad (di Tarim)
Itulah guru-guru beliau yang ada di Hadramaut, dimana mereka semua kebanyakan adalah ulama-ulama besar dan tidak jarang pula yang termasuk wali min auliyaillah.
Pada suatu saat, beliau ingin sekali menunaikan ibadah haji dan lalu berziarah ke datuk beliau termulia Rasulullah SAW. Setelah mendapat ijin dari kakek beliau, Al-Habib Thohir bin Umar Alhaddad, berangkatlah beliau menuju ke kota Makkah dan Madinah. Setelah beliau menunaikan keinginannya, timbullah niat beliau untuk belajar dari para ulama besar yang ada di dua kota suci tersebut. Lalu beliau menuntut ilmu disana dengan berguru kepada :
  • As-Syaikh Said Babsail
  • As-Syaikh Umar bin Abubakar Junaid
  • Al-Habib Husin bin Muhammad Al-Habsyi (Mufti Syafi’iyah pada masa itu)
Setelah dirasa cukup menuntut ilmu disana, timbullah keinginan beliau untuk berhijrah ke Indonesia, sebagaimana yang dilakukan sebelumnya oleh ayah beliau Al-Habib Muhammad. Sesampailah beliau di Indonesia, beliau lalu berziarah ke makam ayah beliau, Al-Habib Muhammad bin Thohir Alhaddad, yang wafat di kota Tegal, Jawa Tengah, pada tahun 1316 H.
Keinginan beliau untuk selalu menuntut ilmu seakan tak pernah luntur dan pupus terbawa jaman. Inilah salah satu kebiasaan beliau untuk selalu mencari dan mencari ilmu dimanapun beliau berada. Tidaklah yang demikian itu, kecuali beliau mencontoh para Datuk beliau yang gemar menuntut ilmu, sehingga mereka bisa menjadi ulama-ulama besar. Diantara para guru beliau yang ada di Indonesia adalah :
  • Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (di Surabaya)
  • Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhor (di Surabaya)
  • Al-Habib Abdullah bin Muhsin Al-Atthas (di Bogor)
  • Al-Habib Salim bin Alwi Al-Jufri (menetap di Menado)
  • Al-Habib Idrus bin Husin bin Ahmad Alaydrus (wafat di India dalam dakwahnya)
Di Indonesia, beliau memilih untuk menetap di kota Bogor. Disana beliau berdakwah dan menyebarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Beliau dikenal sebagai seorang ulama besar dan ahli hadits. Di kota Bogor beliau banyak mengadakan majlis-majlis taklim dan mengajarkan tentang Al-Islam. Sampai akhirnya beliau dipanggil oleh Allah menuju ke haribaan-Nya. Beliau wafat di kota Bogor tahun 1373 H dan dimakamkan di Empang, Bogor.
Seorang ulama besar telah berpulang, namun jejak-jejak langkah beliau masih terkenang. Nama baik beliau selalu tersimpan dalam hati para pecintanya… dalam hati yang paling dalam, menyinari kehidupan suram nan kelam.
Radhiyallohu anhu wa ardhah…
[Disarikan dari Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, M. Syamsu Ass. dan dari berbagai sumber lainnya]

Al-Imam Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir

[Al-Imam Ubaidillah - Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi - Muhammad An-Naqib - Ali Al-'Uraidhi - Ja'far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Ali bin Abi Thalib/Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]
Beliau adalah Al-Imam Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-’Uraidhi bin Ja’far Ash-Shodiq, dan terus bersambung nasabnya hingga Rasulullah SAW. Beliau seorang imam yang agung dan dermawan, alim dan berakhlak mulia, penuh dengan sifat-sifat kebaikan dan kemuliaan.
Beliau juga seorang yang sangat tawadhu (rendah diri). Karena begitu tawadhunya, beliau tidak menamakan dirinya dengan nama Abdullah, akan tetapi ditasghirkan menjadi Ubaidillah, semata-mata untuk mengagungkan Allah dan berendah diri di hadapan-Nya.
Beliau adalah seorang yang Allah memberikan keistimewaan sifat-sifat yang terpuji pada dirinya. Berkata AS-Sayyid Ali bin Abubakar mengenai diri beliau,
Abdullah, orang yang menjaga dirinya dalam agama,
paling terkemuka dalam kedermawanan dan keagungan ilmunya.
Datuk para keturunan mulia, sumber kedermawanan,
dan lautan ilmu, itulah tuan kami yang mulia.
Beliau mengambil ilmu dari ayahnya. Selain itu, beliau juga mengambil ilmu dari para ulama di jamannya. Di kota Makkah, beliau berguru kepada Asy-Syeikh Abu Thalib Al-Makky. Dibawah asuhan gurunya, beliau berhasil menamatkan pelajaran dari kitab gurunya tersebut yang berjudul Guut Al-Guluub.
Tampak pada diri beliau berbagai macam karomah yang dikaruniakan kepada dirinya. Beliau, Al-Imam Ubaidillah, jika meletakkan tangannya pada orang yang sakit, lalu beliau meniupnya dan mengusapkan di tubuhnya, maka sembuhlah si sakit itu.
Mengenai kedermawanannya, beliau jika menggiling kurma miliknya dan meletakkannya di tempat penggilingan, maka kurma-kurma itu semuanya beliau sedekahkan, meskipun jumlahnya banyak.
Beliau mewarisi sifat-sifat mulia dari ayahnya, baik itu di dalam kezuhudannya, ilmunya ataupun ibadahnya. Setelah ayahnya wafat, beliau pindah ke daerah Saml, dan memberikan tanah miliknya ke budaknya yang telah dimerdekakannya yang bernama Ja’far bin Mukhaddam. Tinggallah beliau di kota Saml. Beliau menikah dengan wanita dari daerah tersebut dan dilahirkannya salah seorang anaknya yang bernama Jadid. Sampai akhirnya beliau menutup mata untuk terakhir kalinya di kota tersebut pada tahun 383 H.
Radhiyallohu anhu wa ardhah…
[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]

Al-Imam Alwi bin Ubaidillah, anak dan cucunya

[Al-Imam Alwi - Ubaidillah - Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi - Muhammad An-Naqib - Ali Al-'Uraidhi - Ja'far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Ali bin Abi Thalib/Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]
Beliau adalah Al-Imam Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-’Uraidhi bin Ja’far Ash-Shodiq, dan terus bersambung nasabnya hingga Rasulullah SAW. Beliau seorang yang sangat alim dan dan merupakan salah satu imam besar di jamannya.
Beliau dilahirkan di Hadramaut dan dibesarkan disana. Semenjak kecil beliau dididik langsung oleh ayahnya dan berjalan pada thariqah yang telah ditempuh oleh ayahnya. Beliau gemar mendalami ilmu dan selalu menyibukkan dirinya untuk menuntut ilmu, sehingga beliau berhasil menguasai berbagai macam ilmu. Beliau juga adalah seorang yang hafal Al-Qur’an. Selain menuntut ilmu di Hadramaut, beliau juga menuntut ilmu sampai ke kota Makkah dan Madinah.
Disamping kedalaman ilmunya, beliau adalah seorang yang banyak bermujahadah. Beliau banyak melakukan shalat dan puasa. Sifat wara’ dan banyak bersedekah juga selalu menghiasi diri beliau.
Beliau adalah orang yang pertama kali diberi nama Alwi, yaitu nama yang asalnya diambil dari nama burung yang terkenal. Beliau dikaruniai banyak keturunan, tersebar dan baik. Keturunan beliau ini dikenal dengan nama keluarga Ba’alawy. Jadi setiap keluarga Ba’alawy di seluruh dunia pasti bernasabkan diri kepada beliau. Keturunan beliau, keluarga Ba’alawy, tersebar di seluruh antero negeri. Nasab mereka lebih terang daripada sinar matahari dan cahaya rembulan.
Beliau adalah seorang yang sempurna memadukan kemuliaan diri dan nasab. Keutamaan-keutamaan beliau terukir di berbagai lembaran tulisan. Banyak para ulama dan ahli sejarah yang memuji dan mengagungkan beliau.
Diceritakan dalam salah satu riwayat, yaitu ketika beliau hendak melaksanakan perintah haji dan berziarah ke makam kakeknya Rasulullah SAW. Ikut di dalam rombongan beliau sekitar 80 orang, belum termasuk para pembantu dan sanak kerabatnya. Ikut juga di dalamnya saudaranya yang bernama Jadid. Itu semua beliau yang menanggung biaya perjalanannya. Ditambah lagi beliau sering bersedekah kepada orang lain di saat perjalanan pulangnya. Beliau juga membawa unta-unta dalam jumlah yang banyak untuk dipakai buat orang-orang yang lemah dalam rombongannya.
Beliau hanya mempunyai seorang anak yang bernama Muhammad. Tidak berbeda dengan ayahnya, Al-Imam Muhammad juga seorang yang dikaruniai kemuliaan sifat wara’, zuhud dan ibadah. Perkataan, perbuatan dan hal-ihwalnya selalu berada dalam kebaikan. Berkumpul di dalam dirinya keutamaan dan keindahan budi pekerti. Beliau adalah seorang yang sangat pengasih kepada anak-anak yatim, orang-orang lemah dan kaum fakir miskin. Banyak para ulama dan ahli sejarah yang menyebutkan, memuji dan menghormati beliau. Disamping itu, beliau adalah seorang yang berilmu, kalamnya fasih dan pandai.
Beliau, Al-Imam Muhammad bin Alwi, dilahirkan di daerah Bait Jubair (di Hadramaut) dan dibesarkan disana. Beliau mengambil ilmu langsung dari ayahnya dan juga dari beberapa ulama yang hidup di jamannya. Beliau meninggal pada umur 56 tahun, dengan tidak diketahui pasti tanggal meninggalnya dan tempat disemayamkannya.
Adapun anak beliau adalah bernama Alwi. Al-Imam Alwi juga mewarisi sifat-sifat kebaikan dari ayahnya. Beberapa ahli sejarah menyebutkan dan memuji kehidupan beliau. Beliau seorang imam, ulama, ahli zuhud dan ibadah. Selain itu, beliau juga seorang yang dermawan dan tawadhu. Beliau mengambil ilmu langsung dari ayahnya dan beliau berjalan pada thariqah ayahnya.
Beliau dilahirkan di Bait Jubair dan dibesarkan disana dalam kemuliaan didikan. Beliau meninggal juga di tempat kelahirannya pada tahun 512 H.
Radhiyallohu anhu wa ardhah…
[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]

Al-Imam Ali Khali’ Qasam

[Al-Imam Ali Khali' Qasam - Alwi - Muhammad - Alwi - Ubaidillah - Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi - Muhammad An-Naqib - Ali Al-'Uraidhi - Ja'far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Ali bin Abi Thalib/Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]
Beliau adalah Al-Imam Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-’Uraidhi bin Ja’far Ash-Shodiq, dan terus bersambung nasabnya hingga Rasulullah SAW.
Beliau terkenal dengan julukan Khali’ Qasam (pelepas/pemberi Qasam). Julukan tersebut diberikan kepada beliau dikarenakan beliau membeli suatu tanah dengan harga 20.000 Dinar. Tanah itu kemudian beliau namakan dengan Qasam, sesuai dengan nama tanah keluarganya di kota Bashrah. Di tanah itu beliau menanam pohon kurma. Disana beliau juga membangun suatu rumah yang ditempati pada saat panen kurma. Kemudian beberapa orang membangun rumah-rumah disamping rumah beliau. Sampai akhirnya tempat itu menjadi suatu desa dan dinamakan dengan desa Qasam.
Beliau dilahirkan di Bait Jubair (di Hadramaut), suatu daerah yang penuh berkah dan kebaikan. Beliau dibesarkan di daerah itu. Beliau mengambil ilmu dari ayahnya. Beliau sering mondar-mandir bepergian ke kota Tarim. Akhirnya beliau, diikuti oleh saudara-saudara dan anak pamannya, memutuskan untuk tinggal di kota Tarim.
Beliau adalah seorang imam agung, guru besar, dan terkenal dengan keluasan ilmunya. Terkumpul di dalam diri beliau keutamaan dan kebaikan, anwar dan asrar. Beliau dikaruniai oleh Allah dengan maqam yang sangat tinggi, sehingga tampak dalam diri beliau karomah-karomah yang luar biasa. Beliau adalah seorang alim yang tiada duanya di jamannya dan tempat rujukan bagi manusia di saat itu. Jarang sekali pada suatu jaman terdapat orang yang mempunyai maqam setinggi beliau.
Para ulama besar dan ahli sejarah banyak menyebutkan manaqib dan ketinggian maqam beliau di buku-buku mereka. Termasuk di antaranya adalah Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad menyebutnya dalam suatu syairnya,
Rasulullah membalas salamnya, “(Salam bagimu) Ya Syeikh”
sebagai jawaban atas salamnya (kepada Rasulullah),
maka dibuat kagumlah para orang-orang mulia.
Syair tersebut menggambarkan suatu karomah besar yang ada pada diri beliau, Al-Imam Ali Khali’ Qasam. Hal ini terjadi setelah beliau tinggal di kota Tarim. Beliau jika menjalankan shalat dan sampai pada waktu tahiyat dan membaca salam kepada Nabi SAW, “As-salaamu ‘alaika ayyuhan Nabiyu wa rohmatullohi wa barakaatuh,” beliau mengulang-ulangi bacaan tersebut, sampai beliau mendengar langsung jawaban dari Rasulullah SAW, “As-salaamu ‘alaika ya Syeikh (salam sejahtera bagimu wahai Syeikh).” Demikianlah yang terjadi sebagaimana diceritakan oleh beberapa ulama seperti Al-Jundi, Asy-Syaraji, Ibnu Hisan, dan lain-lain. Al-Allamah Asy-Syeikh Al-Khatib juga menyebutkannya di dalam kitabnya Al-Jauhar Asy-Syafaaf.
Kekhususan ini, yakni dapat mendengar jawaban salam dari Rasulullah SAW, merupakan suatu maqam yang tinggi. Tidak bisa mendapatkan maqam setinggi itu, kecuali hanya segelintir auliya. Maqam itu tidak bisa didapatkan kecuali oleh orang yang sangat-sangat dekat dengan Allah. Asy-Syeikh Abdul Wahab Asy-Sya’rawi berkata dalam hal ini, “Tidak akan sampai seseorang kepada maqam berinteraksi langsung dengan Rasulullah SAW dan mendengar jawaban salam dari beliau SAW, kecuali ia telah melampaui 247.999 maqam para Auliya.”
Asy-Syeikh Abu Al-Abbas Al-Mursi bertanya kepada teman-temannya, “Adakah diantara kalian yang ketika menyampaikan salam kepada Rasul SAW di dalam shalat, terus dapat mendengar jawaban salam dari beliau SAW?.” Mereka berkata, “Tidak ada.” Selanjutnya beliau berkata, “Menangislah kalian, karena kalbu-kalbu kalian tertutup dari Allah dan Rasul-Nya.”
Beliau, Al-Imam Ali Khali’ Qasam, tidak hanya mendapat jawaban salam dari Rasul SAW di dalam shalatnya saja, tetapi di dalam semua kesempatan yang beliau memberikan salam kepada Rasul SAW. Beliau, meskipun mempunyai maqam yang demikian tinggi, adalah seorang yang sangat tawadhu. Beliau mempunyai akhlak yang mulia. Disamping itu, beliau adalah seorang yang pemurah.
Beliau meninggal berkisar pada tahun 523-529 H. Di dalam riwayat lain dikatakan beliau meninggal pada tahun 529 H1. Jasad beliau disemayamkan di pekuburan Zanbal, Tarim.
Radhiyallohu anhu wa ardhah…
[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]

Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiry ( MANAQIB NYA )

Dalam menulis perjalanan kehidupan Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiry, Al-Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz (ayah dari Al-Habib Umar Bin Hafidz) menyaksikan sendiri kehidupan sehari-hari Al-Habib Abdullah. Beliau, Al-Habib Muhammad, adalah salah seorang murid Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry. Untuk mengumpulkan biografi gurunya, Al-Habib Muhammad berkata,
“Kami coba mengumpulkan dari kalam kecintaan kami, suri tauladan kami dan guru kami, yang menegakkan syiar dakwah dengan hikmah dan nasehat-nasehat yang baik dan menyebarkan bendera dzikir dan hidayah.”
Kelahiran beliau
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan karunia-Nya yang amat besar dengan kelahiran Al-Habib Abdullah Asy-Syatiry dari alam yang tersembunyi (sebelum di dunia) ke alam nyata. Beliau ra dilahirkan pada bulan Ramadhan 1290 H, di kota Tarim Al-Ghonna, tepatnya di sebelah Rubath Tarim. Beliau hidup dan tumbuh di lingkungan kalangan kaum sholihin.
Nasab beliau
Al-Habib Abdullah bin Umar bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiry, terus bersambung ke Al-Fagih Al-Muqoddam Muhammad bin Ali, dan terus bersambung hingga sampai kepada datuk beliau yang termulia Rasulullah SAW.
Garis nasab beliau adalah pohon nasab yang penuh petunjuk dan hidayah. Sebagaimana yang telah diisyaratkan dalam perkataan Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad,
“Mereka mengikuti jejak Rasulullah dan para sahabatnya
serta para tabi’in maka berjalanlah kamu dan ikutilah mereka
Mereka berjalan menuju suatu jalan kemuliaan
generasi demi generasi dengan begitu kokohnya”
Ibu beliau
Adapun ibu beliau yang sholihah afifah adalah Nur binti Umar bin Abdullah bin Husin Bin Syihabuddin.
Ayah beliau
Ayah beliau adalah Al-Habib Umar bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiry. Beliau, Al-Habib Umar, meninggal di kota Tarim pada tanggal 2 atau 4 Syawal 1350 H. Beliau adalah merupakan salah seorang pembesar kota Tarim yang terpandang, kaya raya, jenius dan pendapat-pendapatnya jitu dan diikuti. Al-Habib Umar mempunyai andil yang cukup besar di dalam mendidik anak-anaknya, memerintahkan mereka untuk menuntut ilmu dan menyebarluaskannya dalam dakwah fisabilillah. Kemuliaan dan keutamaan beliau yang terbesar adalah di dalam mendidik dan mendorong putra-putranya agar menjadi orang besar, serta kemampuan keuangannya di dalam mencukupi putra-putranya.
Para guru beliau
Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry berguru kepada Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Almasyhur (mufti Hadramaut). Setelah itu, beliau pergi ke Seiwun untuk belajar kepada Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi selama 4 bulan. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan ke kota Makkah dan belajar dari para ulama di kota tersebut selama 4 tahun. Dalam sehari, tidak kurang dari 12 mata pelajaran yang dipelajari oleh beliau, diantaranya adalah Nahwu, Tafsir, Figih, Tauhid dan lain-lain. Seusai belajar, beliau pergi ke Multazam dan berdoa disana,
“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu agar ilmuku dapat bermanfaat bagi seluruh penjuru dunia dari timur hingga ke barat.”
Dan akhirnya Allah mengabulkan doa beliau.
Setelah beliau menamatkan pelajarannya, beliau kembali pulang ke kota Tarim dan mengajar di Rubath Tarim selama 50 tahun.

Masa belajar beliau
Ketika Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiry mencapai usia tamyiz, beliau diperintahkan oleh ayah dan kakeknya untuk mempelajari ilmu agama, yaitu belajar kitab Syeikh Barosyid. Beliau kemudian belajar membaca dan menulis serta membaca Al-Qur’an kepada 2 orang ulama yang paling terkemuka di jaman itu. Mereka adalah Syeikh Muhammad bin Sulaiman Bahalmi dan putranya Syeikh Abdurrahman. Setelah tamat belajar pada Syeikh Muhammad dan putranya, beliau yang masih kecil pada saat itu mengatur waktu belajarnya sendiri di qubah Al-Habib Abdullah bin Syeikh Alaydrus.
Teman akrab beliau saat belajar di qubah Al-Habib Abdullah bin Syeikh Alaydrus adalah Al-Habib Abdul Bari’ bin Syeikh Alaydrus. Begitu dekat hubungan antara keduanya hingga Al-Habib Abdul Bari Alaydrus berkata,
“Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry benar-benar belajar denganku di qubah Al-Habib Abdullah bin Syeikh Alaydrus.”
Guru beliau yang mengajar disana waktu itu adalah Syihabuddin (lentera agama) Al-Habib Ahmad bin Muhammad bin Abdullah Alkaf. Al-Habib Ahmad adalah orang yang sangat takwa. Selain Al-Habib Ahmad Alkaf, guru beliau yang lain waktu itu adalah Al-Habib Syeikh bin Idrus bin Muhammad Alaydrus yang terkenal dengan selalu memakai pakaian yang terbaik. Beliau belajar dari kedua guru tersebut dalam bidang figih dan tasawuf, hingga hafal beberapa juz Al-Qur’an. Beliau memiliki semangat belajar yang tinggi dan selalu mencurahkan waktunya untuk mendalami ilmu agama.
Setelah belajar dari kedua guru beliau tersebut, Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry melanjutkan belajar kepada Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Almasyhur Mufti Dhiyar (pengarang kitab Bughyatul Murtarsyidin) dan juga belajar kepada Al-Habib Al-’Allamah penyebar bendera dakwah Al-Habib Alwi bin Abdurrahman bin Abubakar Almasyhur. Selain itu beliau juga mempelajari dari para ulama yang tinggal di kota Tarim ilmu-ilmu agama seperti figih, tafsir, hadits, tasawuf, mantiq (kalam) dan lain-lain.

Antusias beliau seakan tak pernah surut untuk semakin memperdalam ilmu agama. Untuk itu beliau pergi ke kota Seiwun. Disana beliau belajar kepada Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husin Alhabsyi (pengarang maulud Simthud Duror) selama 4 bulan. Meskipun tak seberapa lama, beliau benar-benar memanfaatkan waktu dan mengaturnya dengan baik, sehingga dengan waktu yang sedikit tersebut dapat menghasilkan ilmu yang lebih banyak dari yang beliau dapatkan sebelumnya. Selain itu beliau juga belajar kepada saudara Al-Habib Ali, yaitu Al-Habib Alwi bin Muhammad bin Husin Alhabsyi.
Setelah menamatkan pelajarannya, beliau kembali ke kota Tarim. Beliau tidak pernah merasa cukup untuk menuntut ilmu. Himmah (keinginan kuat) beliau untuk belajar tak pernah pudar, bahkan semakin bertambah, sehingga beliau dapat menghafalkan banyak matan terutama dalam ilmu figih seperti matan Al-Irsyad yang beliau hafalkan sampai bab Syuf’ah.
Rubath Tarim
Rubath Tarim adalah rubath yang tertua di Hadramaut dan terletak di kota Tarim. Rubath ini usianya mencapai 118 tahun. Asy-Syeikh Abubakar Bin Salim yang hidup jauh sebelum masa Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry setiap kali pergi ke kota Tarim, beliau selalu berhenti di suatu tanah sambil berkata,
“Tanah ini nantinya akan menjadi sebuah Rubath…”
Benarlah apa dikatakan oleh beliau, diatas tanah itu akhirnya terbangunlah Rubath Tarim. Dikatakan di sebagian riwayat bahwa 2 wali min Auliyaillah, Al-Fagih Al-Muqoddam dan Asy-Syeikh Abubakar Bin Salim, selalu menjaga Rubath Tarim. Juga dikatakan bahwa setiap harinya arwah para auliya turut menghadiri majlis-majlis taklim di Rubath.

Murid-murid beliau
Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry memiliki banyak murid yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Tidak kurang dari 13.000 ulama tercatat sebagai alumni Rubath Tarim yang diasuh oleh beliau. Bahkan riwayat lain menyebutkan lebih dari 500.000 ulama pernah belajar dari beliau. Al-Habib Alwi bin Muhammad bin Thohir Alhaddad sempat berkata, “Tidak pernah aku masuk ke suatu desa, kota atau tempat lainnya, kecuali aku dapatkan bahwa ulama-ulama di tempat tersebut adalah murid dari Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry atau murid dari murid beliau.”
Sebagian ulama alumni Rubath pimpinan Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry diantaranya adalah:
Di Hadramaut
1. Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Bin Syeikh Abubakar
Beliau adalah pimpinan Rubath Syihr. Setelah beliau wafat, dilanjutkan oleh Al-Habib Kadhim bin Ja’far bin Muhammad Assegaf. Semasa belajar di Rubath Tarim, beliau Al-Habib Ahmad belum pernah tidur. Tempat tidur beliau selalu kosong dan rapi, dan hal ini berlangsung selama 10 tahun.
2. Al-Habib Muhammad bin Abdullah Alhaddar
Beliau belajar kepada Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry selama 4 tahun. Semasa belajar, beliau selalu menghapal pelajaran di pinggiran atap (balkon) Rubath Tarim. Beliau pernah berkata, “Kalau saya masih mau hidup, saya harus menghapalkan pelajaran dan tidak boleh tidur.”  Kalau hendak tidur, beliau selalu mengikat kakinya dengan tali dan diikatkan ke jendela kecil. Beliau hanya tidur selama beberapa jam. Sisanya dipergunakan untuk mendalami ilmu agama. Jika waktunya bangun, Al-Habib Alwi bin Abdullah Bin Syahab menarik tali yang terikat di kaki Al-Habib Muhammad sambil berseru, “Wahai Muhammad, bangunlah…!,” lalu terbangunlah beliau. Itulah sebagian mujahadah beliau sewaktu belajar di Rubath Tarim.
3. Al-Habib Hasan bin Ismail Alhamid
Beliau adalah pimpinan Rubath Inat. Di Rubath Tarim beliau belajar selama beberapa tahun, lalu beliau diperintahkan oleh Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry untuk membuka Rubath di kota Inat. Sampai sekarang Rubath Inat terus berkembang dan berkembang.
Di Indonesia
1. Al-Habib Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih.
Beliau adalah seorang wali qutub dan pimpinan Ma’had Darul Hadits Malang. Dari sebagian murid beliau diantaranya putera beliau sendiri Al-Habib Abdullah, Al-Habib Salim bin Ahmad Bin Jindan, dan lain-lain.
2. Al-Habib Abdullah bin Husin Al-’Attas As-Syami
Beliau seorang wali min auliyaillah dan tinggal di Jakarta.
3. Al-Habib Abdullah bin Ahmad Alkaf
Beliau berasal dari kota Tegal. Beliau adalah ayah dari Ustadz Thohir Alkaf, seorang dai yang melanjutkan tongkat estafet dakwah ayahnya.
4. Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Alkaf
Beliau adalah pengarang kitab Sullamut Taysir.
dan masih banyak lagi anak didik beliau Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry yang tak dapat ditulis satu persatu. Putera beliau Al-Habib Salim pernah ditanya oleh seseorang, “Kenapa Al-Habib Abdullah Asy-Syathiry tidak mengarang kitab sebagaimana umumnya para ulama?.” Beliau Al-Habib Salim menjawab, “Beliau tidak mengarang kitab, tapi mencetak ulama-ulama.”
Tamat


[Disarikan dari "Nafkhu Ath-Thoyyib Al-'Aathiry min Managib Al-Imam Abdullah bin Umar Asy-Syathiry", karangan Al-Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz Bin Syeikh Abubakar Bin Salim, dan diterjemahkan oleh Ustadz Sholeh bin Umar Bin Jindan, alumni Rubath Tarim]

Al-Imam Ali Shahibud Dark

[Al-Imam Ali Shahibud Dark - Alwi Al-Ghuyur - Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad - Ali - Muhammad Shohib Mirbath - Ali Khali' Qasam - Alwi - Muhammad - Alwi - Ubaidillah - Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi - Muhammad An-Naqib - Ali Al-'Uraidhi - Ja'far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Ali bin Abi Thalib/Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]
Beliau adalah Al-Imam Ali bin Alwi Al-Ghuyur bin Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, dan terus bersambung nasabnya sampai Rasulullah SAW. Beliau dijuluki dengan Shahibud Dark.
Beliau adalah seorang imam, guru besar dan wali yang terkenal. Beliau adalah orang yang mahbub (dicintai) di sisi Allah. Ibu beliau adalah seorang syarifah, yaitu Sayyidah Fatimah binti Ahmad bin Alwi bin Muhammad Shahib Mirbath.
Beliau, Al-Imam Ali Shahibud Dark, adalah termasuk orang-orang yang yang diberikan kekhususan. Beliau seorang ‘arif billah dan qutub. Beliau seorang yang kuat dalam ber-mujahadah dan suka menyendiri dalam ber-muwajahah kepada Allah. Diri beliau adalah merupakan sosok teladan bagi para muridin dan arifin.
Beliau dibesarkan dalam didikan ayahnya. Beliau juga sempat hidup dengan kakeknya, Al-Faqih Al-Muqaddam, ketika masih kecil. Dari keduanya, beliau mendapatkan banyak nafahat.
Suatu ketika saat berada di Mekkah, beliau berdoa kepada Allah agar diberikan seorang anak yang sholeh. Spontan setelah itu terdengar suara, “Doamu telah dikabulkan oleh Allah. Maka kembalilah engkau ke negerimu.” Beliau pun kembali ke Tarim. Namun beliau masih berlambat-lambat dalam menikah. Suatu ketika beliau berada di salah satu masjid di kota Tarim sedang berdoa. Saat beliau hanyut dalam doanya dan ruhnya naik keatas langit, beliau mendapat kabar gembira dengan akan diberikannya seorang anak yang sholeh. Beliau lalu berkata, “Saya ingin melihat tandanya.” Lalu beliau diberi 2 lembar kertas, sambil dikatakan kepada beliau, “Taruhlah salah satu kertas itu diatas mata seorang wanita yang berada di dekatmu, maka ia akan segera dapat melihat.” Dan memang di dekat beliau ada seorang wanita yang buta. Beliau pun lalu menaruh salah satu kertas tersebut diatas matanya dan spontan wanita itu dapat melihat kembali. Beliau pun kemudian menikah dengan wanita tersebut dan memperoleh seorang anak yang sholeh yang bernama Muhammad.
Beliau, Al-Imam Ali Shahibud Dark, banyak mempunyai karomah dan keajaiban. Beliau adalah orang yang suka ber-khalwah (menyendiri) dan ber-zuhud terhadap dunia. Beliau sering berziarah ke makam Nabiyallah Hud di bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan.
Muhammad bin Abu As-Su’ud pernah berkata,
“Suatu ketika beliau mendapatkan harta. Lalu aku mendengar beliau berkata, ‘Ali bin Alwi dan dunia. Ya Allah, jauhkan aku darinya, atau jauhkan ia dariku.’ Beliau meninggal 3 bulan setelah itu.”
As-Syeikh Ibrahim bin Abu Qusyair berkata,
“Aku bermimpi bertemu dengan Asy-Syeikh Ali bin Alwi, lalu aku bertanya, ‘Bagaimana Allah memperlakukanmu?. Beliau menjawab, ‘Sesuatu apapun tak dapat membahayakan orang yang mahbub (dicintai).’ “
Beliau meninggal pada hari Rabu, 17 Rajab 709 H. Beliau meninggalkan seorang putra yang bernama Muhammad Maulad Dawilah, dan 6 putri yang masing-masing bernama Maryam, Khadijah, Zainab, Aisyah, Bahiyah dan Maniyah. Kesemuanya berasal dari seorang ibu yang bernama Fatimah bin Sa’ad Balaits.
Radhiyallohu anhu wa ardhah…
[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]

Putra-putra Al-Imam Muhammad Shohib Mirbath

Putra Al-Imam Muhammad Shohib Mirbath yang pertama adalah Al-Imam Alwi. Beliau sering dijuluki dengan ‘Ammul Faqih (paman dari Al-Faqih Al-Muqaddam). Beliau adalah seorang imam yang berilmu dan beramal, dermawan dan pemurah. Beliau mewarisi sifat-sifat kebaikan dari ayahnya. Beliau berjalan di jalan yang telah ditempuh oleh ayahnya.
Beliau dilahirkan di kota Tarim dan dibesarkan disana. Beliau mengambil ilmu langsung dari ayahnya. Selain itu, beliau juga mengambil ilmu dari Asy-Syeikh Salim Bafadhal, As-Sayyid Salim bin Bashri, Asy-Syeikh Ali bin Ibrahim Al-Khatib, dan lain-lain. Dari tangan beliau juga, telah berhasil keluar ulama-ulama besar dalam didikannya, seperti diantaranya putra-putra beliau sendiri yaitu Ahmad, Abdullah, Abdurrahman, dan Abdul Malik. Selain itu, Al-Faqih Al-Muqaddam juga termasuk hasil didikan beliau yang berhasil.
Beliau adalah seorang yang mempunyai budi pekerti luhur, sehingga sangat dicintai oleh masyarakatnya. Beliau dapat diterima baik di kalangan awam maupun khusus. Selain itu, dari ketinggian maqam beliau di sisi Allah, beliau banyak dikaruniai karomah.
Beliau wafat di kota Tarim, pada hari Senin, bulan Dzulqaidah, tahun 613 H. Jazad beliau disemayamkan di pekuburan Zanbal.
Putra Al-Imam Muhammad Shohib Mirbath yang kedua adalah Al-Imam Ahmad. Beliau adalah ayah dari Zainab, istri Al-Faqih Al-Muqaddam.
Kemudian putra Al-Imam Muhammad Shohib Mirbath yang ketiga adalah Al-Imam Ali. Beliau adalah ayah dari Al-Faqih Al-Muqaddam.
Beliau adalah seorang imam yang penuh dengan kezuhudan. Beliau adalah seorang yang alim dan menjalani kehidupannya sebagai seorang sufi. Beliau banyak dikaruniai asrar dan ahwal, sehingga muncul pada diri beliau karomah-karomah. Selain itu beliau juga adalah seorang yang pemurah dan dermawan.
Beliau dilahirkan di kota Tarim dan dibesarkan disana. Beliau mengambil ilmu dari ayahnya dan dari beberapa ulama di jamannya. Kehidupan beliau penuh dengan akhlak yang luhur. Sifat tawadhu selalu menghiasi diri beliau. Beliau wafat pada sekitar tahun 593-599 H.
Adapun putra Al-Imam Muhammad Shohib Mirbath yang keempat adalah Al-Imam Abdullah. Muhammad bin Ali Al-Qal’iy pernah memberikan suatu ijazah kepada beliau. Demikian juga Al-Faqih Ibnu Faris pernah menyebutkan nama beliau di kitabnya Jami’ At-Turmudzi.
Radhiyallohu anhu wa ardhah…
[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]

Al-Imam An-Nawawi

Al-Hafidz Adz-Dzahabi dalam bukunya Tadzkiratul Huffadz (juz.4, hal. 1472) dan Ibnu Qadhi Syuhbah dalam Thabaqotus Syafi’iyyah (juz. 2, hal. 194) di dalam bab biografi Imam Nawawi berkata :
Beliau adalah Al-Imam Al-Hafidz Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syarf bin Muri bin Al-Hizami Al-Haurani As-Syafi’i, penulis banyak kitab, lahir pada bulan Muharram 631 H di kota Nawa (oleh sebab itu beliau dikenal dengan An-Nawawi). Beliau menginjakkan kakinya di kota Baghdad pada tahun 649 H dan tinggal di sekolah Ar-Ruhiyyah. Setiap harinya beliau hanya makan sedikit roti yang dibagikan di sekolah tersebut.
Beliau pernah berkata, “Kurang lebih dua tahun saya tinggal di sekolah Ar-Ruhiyyah dan selama itu pula saya tidak pernah tidur berbaring.” Dalam waktu empat setengah bulan beliau berhasil menghafalkan kitab At-Tanbih dan dalam waktu tujuh setengah bulan beliau berhasil menghafalkan kitab seperempat kitab Al-Muhadzdzab. Beliau sempat mengoreksi hafalan beliau tersebut di depan gurunya As-Syeikh Kamal Ishaq bin Ahmad.
Salah seorang murid beliau As-Syeikh Abu Hasan bin Al-Atthar pernah mendengar dari beliau bahwa beliau Imam Nawawi setiap harinya membaca 12 materi pelajaran dengan men-syarah dan men-tashih di hadapan guru-gurunya yaitu 2 materi dari kitab Al-Wasith (Figih), 1 materi dari kitab Al-Muhadzdzab (Figih), 1 materi dari kitab Al-Jam’u baina Sahihain (Metodologi Hadits), 1 materi dari kitab Shahih Muslim (Hadits), 1 materi dari kitab Al-Luma’ karya Ibnu Jinni (Nahwu), 1 materi tentang Ishlahul Mantiq (Etimologi), 1 materi di bidang Shorof, 1 materi di bidang Ushul Figih (terkadang membaca kitab Al-Luma’ karya Abu Ishaq atau terkadang membaca kitab Al-Muntakhab karya Fakhruddin Ar-Razy), 1 materi di bidang Asma’ul Rijal (kitab yang menerangkan tentang perawi hadits), 1 materi di bidang Teologi, dan 1 materi lagi di bidang Nahwu.
Kemudian beliau Imam Nawawi menambahkan, “Semua buku yang saya baca tadi, saya komentari, terkadang men-syarah kalimat-kalimat yang sulit, menjelaskan beberapa makna, atau mengkoreksi susunan bahasanya. Semoga Alloh selalu memberkahi waktuku.”
Abu Al-Atthar menyebutkan gurunya Imam Nawawi pernah bercerita kepadanya bahwa beliau tidak pernah mensia-siakan waktunya sekejap pun. Waktu beliau selalu habis untuk menuntut ilmu, bahkan di jalan pun beliau selalu membaca dan hal itu berlangsung selama 6 tahun.
Beliau juga mengarang, mengajar dan memberikan nasehat-nasehat dalam hal kebaikan. Sehari semalam beliau hanya makan sekali pada akhir Isya’ (menjelang waktu sahur), begitu juga dengan minum.
Beliau selalu sibuk mengarang, menyebarkan ilmu, beribadah, berdzikir, berpuasa dan sabar akan kehidupannya yang serba pas-pasan, baik dalam hal sandang maupun pangan. Pakaian beliau pun terbuat dari kulit.
Beliau berpulang ke rahmatullah pada tahun 676 H pada usia yang relatif muda 45 tahun. Sampai akhir hayatnya, beliau meninggalkan banyak karangan besar. Betapa berkahnya umur beliau.
Radhiyallohu anhu wa ardhah…
[Disarikan dari Nilai Waktu Menurut Ulama, Abdul Fattah Abu Ghuddah, cetakan I, 1996, penerbit Pustaka Amani, Jakarta]

Al-Habib Abdullah bin Ali Alhaddad

Beliau dilahirkan di kota Hawi, Tarim, pada tanggal 2 Shafar 1261 H. Semenjak kecil beliau mendapatkan pendidikan langsung dari kedua orangtuanya. Hal itu memang sudah menjadi suatu ciri para ulama salaf Bani Alawi, yang kebanyakan dari mereka semenjak kecil didikan langsung oleh orangtua-orangtuanya.
Menginjak usia dewasa, beliau berguru kepada para ulama besar yang ada di kota Tarim. Di antara guru-guru beliau adalah :
  • Al-Habib Hamid bin Umar Bafaraj
  • Al-Habib Umar bin Hasan Alhaddad
  • Al-Habib Muhammad bin Ibrahim Bilfagih
  • Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad Almasyhur (mufti Tarim saat itu)
  • Al-Habib Idrus bin Umar Alhabsyi (pengarang kitab Iqdul Yawaaqit)
  • Al-Habib Muhsin bin Alwi Assegaf
  • Al-Habib Muhammad bin Syaikh Jamalul Lail
Tidak hanya itu saja, beliau juga melakukan perjalanan jauh untuk menuntut ilmu yang bermanfaat kepada para ulama di daerah-daerah lain. Beliau mengambil ilmu dari guru-guru besar beliau, diantaranya :
  • Asy-Syaikh Sa’id bin Isa Al-Amudi (Damun)
  • Al-Habib Thahir bin Umar Alhaddad (Damun)
  • Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah Basaudan (Geidun)
  • Al-Habib Ahmad bin Muhammad Almuhdhor (Huwaireh)
Pada tahun 1295 H, berangkatlah beliau menuju ke tanah Haram untuk menunaikan ibadah haji. Di kota Makkah, beliau tinggal di kediaman Al-Habib Muhammad bin Husin Alhabsyi yang berada di daerah Jarwal. Disana keduanya saling mengisi dengan membaca bersama-sama kitab-kitab agama. Pada saat di kota Madinah, beliau bertemu dengan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Mukti bin Muhammad Al-Azab, seorang fagih dan pakar bahasa dan kesustraan arab, serta pengarang kitab maulud Al-Azab. Disana juga keduanya saling mengisi dengan saling memberikan ijazah.
Pada tahun 1297 H, beliau melakukan hijrah dalam rangka berdakwah ke negeri Melayu. Tempat awal yang beliau tuju adalah Singapura, kemudian beliau menuju ke Johor. Di Johor ini beliau tinggal selama 4 tahun. Setelah itu beliau meneruskan perjalanan dakwahnya ke pulau Jawa. Sampailah beliau di daerah Betawi. Beliau lalu meneruskan perjalanan ke kota Bogor, Solo dan Surabaya. Beliau tidak tertarik tinggal di kota-kota tersebut, walaupun diajak penduduk setempat untuk menetap di kotanya.
Sampai akhirnya pada tahun 1301 H, tepatnya akhir Syawal, beliau tiba di kota Bangil. Disanalah beliau menemukan tempat yang cocok untuk menetap dan berdakwah. Mulailah beliau membuka majlis taklim dan rauhah di kediaman beliau di kota Bangil. Beliau juga mengembangkan dakwah Islamiyyah di daerah-daerah lain di sekitar kota Bangil. Disana juga beliau mengamalkan ilmunya dengan mengajar kepada murid-murid beliau. Keberadaan beliau di kota Bangil banyak membawa kemanfaatan bagi masyarakat di kota tersebut. Tidak jarang pula, masyarakat dari luar kota datang ke kota itu dengan tujuan untuk mengambil manfaat dari beliau.
Beliau adalah seorang yang sangat pemurah dan sangat memperhatikan para fakir miskin. Beliau adalah seorang yang tidak suka dengan atribut kemasyhuran. Beliau tidak suka difoto atau dilukis. Beberapa kali dicoba untuk difoto tanpa sepengetahuan beliau, tetapi foto tersebut tidak jadi atau rusak. Beliau adalah seorang yang mempunyai sifat tawadhu. Beliau selalu menekankan kepada para muridnya untuk tidak takabur, sombong dan riya. Dakwah yang beliau jalankan adalah semata-mata hanya mengharapkan keridhaan Allah Azza wa Jalla. Dan inilah bendera dakwah beliau yang tidak lain itu semua mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh para pendahulunya.
Hari demi hari beliau jalani dengan mengemban tugas dakwah, suatu aktivitas yang dapat menggembirakan hati Rasulullah SAW dan datuk-datuknya RA, suatu aktivitas yang membawa umat dari kegelapan menuju cahaya iman. Itulah aktivitas beliau sehari-hari. Sampai pada waktunya, beliau dipanggil oleh Sang Pencipta. Beliau wafat pada hari Jum’at, 15 Shofar 1331 H, sesudah melaksanakan shalat Ashar. Berpulanglah beliau kepada Rabbul Alamin dengan amal baik beliau yang beliau tanam semasa hidupnya… berpulang dalam keridhaan-Nya… berpulang dalam naungan-Nya.
Radhiyallohu anhu wa ardhah…
[Disarikan dari Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, M. Syamsu Ass. dan dari berbagai sumber lainnya]

Al-Imam Muhammad Shohib Mirbath

[Al-Imam Muhammad Shohib Mirbath - Ali Khali' Qasam - Alwi - Muhammad - Alwi - Ubaidillah - Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi - Muhammad An-Naqib - Ali Al-'Uraidhi - Ja'far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Ali bin Abi Thalib/Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]
Beliau adalah Al-Imam Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-’Uraidhi bin Ja’far Ash-Shodiq, dan terus bersambung nasabnya hingga Rasulullah SAW.
Beliau terkenal dengan julukan Shohib Mirbath, yang artinya penghuni daerah Mirbath. Mirbath adalah julukan bagi kota Dhafar lama, suatu daerah berpantai.
Beliau adalah seorang imam yang agung, unggulan di jamannya. Beliau banyak menguasai berbagai macam ilmu dan gemar mengamalkannya. Beliau seorang yang hidup dalam keadaan zuhud dan wara’. Hidupnya penuh dengan ibadah dan berbuat kebajikan. Seseorang yang melihat kehidupan beliau, pasti terkagum akan keindahan akhlak dan kemuliaan sifat-sifatnya.
Selain itu beliau juga seorang yang sangat dermawan dan pemurah. Kedalamannya di dalam menguasai ilmu menjadikan beliau sebagai seorang guru yang agung. Dengan kemuliaan dan kebaikan kehidupannya, muncullah di dalam diri beliau berbagai macam karomah.
Beliau aslinya berasal dari Hadramaut, kemudian memutuskan tinggal di Mirbath. Banyak para ulama yang berhasil dalam didikan beliau dan akhirnya menjadi ulama-ulama besar. Diantaranya adalah 4 putra beliau sendiri, yaitu Alwi, Abdullah, Ahmad dan Ali (ayah dari Al-Fagih Al-Muqaddam). Selain itu ada juga beberapa ulama lainnya seperti Asy-Syeikh Muhammad bin Ali (yang disemayamkan di kota Sihr), Asy-Syeikh Al-Imam Ali bin Abdullah Adh-Dhafariyyin, Asy-Syeikh Salim bin Fadhl, Asy-Syeikh Ali bin Ahmad Bamarwan, Al-Qadhi Ahmad bin Muhammad Ba’isa, Asy-Syeikh Ali bin Muhammad Al-Khatib.
Dari beliaulah, muncullah generasi-generasi yang membawa bendera dakwah seantero negeri. Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad melukiskan beliau dalam suatu bait syairnya,
“Penghuni Mirbath, seorang imam,
pusat bermuaranya keturunannya, para ahli dakwah”
Siapa lagi kalau bukan dari keturunan anak-anak beliau, yaitu Ali (ayah dari Al-Fagih Al-Muqaddam) dan Alwi (Ammul Fagih). Dari putra-putra beliau itulah, bertebaran insan-insan pembawa hidayah kepada jalan yang benar. Merekalah guru dari semua guru yang menyampaikan syariah ke seluruh negeri. Merekalah insan-insan pembawa kebenaran dari generasi ke generasi, dan bermuarakan dari Shohibur Risalah Nabi Muhammad SAW.
Beliau wafat pada tahun 556 H dan disemayamkan di Mirbath. Sampai sekarang makam beliau banyak diziarahi orang-orang yang ingin mengambil barakah dan terkabulnya doa.
Radhiyallohu anhu wa ardhah…
[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]

Al-Imam Alwi Al-Ghuyur

[Al-Imam Alwi Al-Ghuyur - Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad - Ali - Muhammad Shohib Mirbath - Ali Khali' Qasam - Alwi - Muhammad - Alwi - Ubaidillah - Ahmad Al-Muhajir - Isa Ar-Rumi - Muhammad An-Naqib - Ali Al-'Uraidhi - Ja'far Ash-Shodiq - Muhammad Al-Baqir - Ali Zainal Abidin - Husain - Ali bin Abi Thalib/Fatimah Az-Zahro - Muhammad SAW]
Beliau adalah Al-Imam Alwi bin Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, dan terus bersambung nasabnya sampai Rasulullah SAW. Beliau dijuluki dengan Al-Ghuyur (yang cemburu), yaitu yang cemburu atas namanya. Hal ini dikarenakan tidak ada seorang pun dari keluarga Bani Alawy di jaman beliau yang bernama Alwi. Jika ada seseorang yang berniat memberi nama Alwi, pasti ia akan tercegah untuk menamakan dengan nama itu, sehingga memberikan nama lain.
Beliau dilahirkan di kota Tarim dan dibesarkan disana. Beliau dididik langsung oleh ayahnya. Beliau mengambil dari ayahnya berbagai macam ilmu dan pengetahuan. Beliau juga menempuh jalan ayahnya, baik secara syariah, thariqah maupun haqiqah. Ibu beliau adalah Hababah Zainab binti Ahmad bin Muhammad Shahib Mirbath, seorang wanita yang termasuk al-’arif billah.
Beliau adalah seorang keturunan Rasul SAW yang agung, seorang yang alim dan mengamalkan ilmunya, serta seorang ahli zuhud. Beliau adalah seorang al-’arif billah, mempunyai maqam yang tinggi dan karomah yang luar biasa. Beliau banyak mendapatkan ilmu-ilmu laduniyyah dan asrar ghaibiyyah.
Beliau jika berkata terhadap sesuatu, “Kun (jadilah),” maka sesuatu itu jadi sebagaimana yang dikehendakinya dengan ijin Allah. Banyak para ulama besar dan auliya di jamannya menukilkan ucapan beliau yang berkata, “Aku berada dalam maqam Al-Junaid.” Beliau dapat mendengar tasbih dari benda-benda mati.
Beliau bisa mengenali orang-orang yang ahli celaka dan yang ahli bahagia. Pada suatu hari ayahnya, Al-Faqih Al-Muqaddam, berkata kepada beliau pada saat beliau masih kecil, “Engkau dapat mengenali mana orang yang ahli celaka dan mana yang ahli bahagia. Maka lihatlah yang demikian itu di dahiku (aku termasuk yang mana)?.” Lalu beliau melihatnya dan mendapatkannya sebagai orang yang termasuk ahli bahagia, kemudian beliau sampaikan hal tersebut kepada ayahnya.
Suatu saat beliau berziarah ke datuknya, Rasulullah SAW, dan di sampingnya ada Abubakar dan Umar (semoga Allah meridhoi keduanya). Beliau berkata kepada datuknya SAW, “Dimanakah kedudukanku di sisimu, wahai kakek?.” Menjawab Rasulullah SAW, “Di kedua belah mataku.” Lalu Rasulullah SAW bertanya kepada beliau, “Dan dimanakah kedudukanku di sisimu, wahai Syeikh Alwi?.” Lantas beliau menjawab, “Di atas kepalaku.” Kemudian Abubakar berkata, “Bagaimana engkau menempatkan Rasulullah demikian?. Dia menempatkanmu di kedua belah matanya, sedangkan engkau menempatkannya di atas kepalamu. Tidak ada sesuatu yang dapat menyamai kedua belah mata. Engkau harus mensyukurinya dengan bersedekah kepada para fakir miskin 100 dinar.” Setelah beliau pulang, beliau pun bersedekah 100 dinar sebagai tanda syukur.
Pada saat beliau berlambat-lambat dalam menikah, berkatalah calon keturunannya dari punggungnya, “Kami telah berada di punggungmu. Cepatlah menikah. Kalau tidak, kami akan keluar dari punggungmu!”  Ketika beliau telah menikah dan istrinya mengandung, berkatalah si jabang bayi dari rahim istrinya, “Aku anak sholeh. Aku hamba sholeh.”
Beliau, Al-Imam Alwi Al-ghuyur, seorang yang cepat memberikan pertolongan bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongan. As-Sayyid Al-Allamah Al-Imam Muhammad bin Alwi Al-Khirid Ba’alawy berkata di dalam kitabnya Al-Ghurar, “Mengabarkan kepadaku Asy-Syeikh Abdurrahman bin Ali bahwa para al-’arif billah berkata, ‘Ada 3 orang dari keluarga Bani Alawy yang senantiasa semangatnya terpelihara. Sifatnya yang merespon pertolongan dengan cepat selalu semakin baik dan terjaga. Seorang yang meminta pertolongan kepada mereka, selalu cepat mereka bantu. Mereka adalah Alwi Al-Ghuyur, dan anaknya yaitu Ali, serta Asy-Syeikh Umar Al-Muhdhor.’ “
Ayah beliau, Al-Faqih Al-Muqaddam, memuji kepada beliau dan memberikan isyarat bahwa pada suatu saat nanti anaknya itu akan menjadi seorang wali yang agung. Banyak para ulama mengatakan bahwa sirr ayahnya pindah kepada diri beliau. Sebagian di antara mereka berkata, “Beliau pengganti dari orang-orang yang terdahulu.”
Beliau menikah dengan seorang wanita yang bernama Hababah Fatimah binti Ahmad bin Alwi bin Muhammad Shahib Mirbath. Melalui istrinya tersebut, beliau dikaruniai dua orang putra, yaitu Ali dan Abdullah. Beliau wafat pada hari Jum’at, 12 Dzulqaidah 669 H. Jasad beliau disemayamkan di pekuburan Zanbal Tarim dan diletakkan di sebelah timur dari makam ayahnya.
Radhiyallohu anhu wa ardhah…
[Disarikan dari Syarh Al-Ainiyyah, Nadzm Sayyidina Al-Habib Al-Qutub Abdullah bin Alwi Alhaddad Ba'alawy, karya Al-Allamah Al-Habib Ahmad bin Zain Alhabsyi Ba'alawy]